Student Earth Generation: Mulai dari Mana ?

Student Earth Generation: Mulai dari Mana ?

OpiniOpini Pelajar
385 views
Tidak ada komentar
Student Earth

Student Earth Generation: Mulai dari Mana ?

OpiniOpini Pelajar
385 views
Student Earth
Student Earth

Bersumber dari wacana teologi pembebasan dan pendidikan orang tertindas, dirasa sangat perlu Ikatan Pelajar Muhammadiyah menggarap isu ekologi baik tindakan secara preventif maupun kuratif. Student Earth Generation (SEG) adalah salah satu agenda aksi dari konservasi ekologi yang sudah cukup lama digaungkan oleh IPM. Namun, apakah agenda aksi ini sudah bisa berjalan sampai ke gerakan akar rumput ?

Bagi sebagian kader mungkin masih bertanya-tanya, seperti apa sih gerakan ekologi yang bisa kita aplikasikan di IPM ? ada yang menjawab tanam 1000 pohon, tolak deforestasi hutan, beralih ke bahan bakar ramah lingkungan dan masih banyak lagi wacana-wacana lainnya.

Saya jawab, “Tidak usah muluk-muluk kawan, kita mulai zero waste dari karpet rapat pimpinan !” 

Ya, kita bisa menerapkan gaya hidup zero waste di setiap karpet rapat pimpinan, kenapa ? karena sesuatu yang besar berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Karpet rapat juga salah satu tempat kebanyakan para kader memanfaatkan banyak waktu untuk bergiat di ikatan, maka dirasa sangat efektif jika agenda Student Earth Generation kita mulai dari sini.

Apa itu Zero Waste ?

Gaya hidup zero waste bisa dibilang gaya hidup nol-sampah, walaupun disebut nol-sampah kita tidak seratus persen benar-benar hidup tanpa menghasilkan sampah. Konsepnya ialah kita mengurangi sampah tersebut. Tentu sampah yang dimaksud disini ialah sampah jenis plastik yang saat ini menjadi masalah besar di lingkungan kita. Dengan pola pikir ‘mengurangi’ sampah plastik, akan membuat kita lebih mawas dan bijak dalam menggunakan plastik.

Mengambil data dari Greenpeace, Indonesia menghasilkan sampah plastik sebesar 3,22 Juta ton setiap tahunnya dengan 0,48-1,29 Juta ton diantaranya mencemari lautan. Data tersebut menempatkan Indonesia kita tercinta menduduki peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia setelah Tiongkok. Plastik adalah salah satu musuh terbesar lingkungan, untuk mengurai plastik membutuhkan 20 hingga 500 tahun. Berita yang lebih mengejutkan, laut Indonesia tahun 2040 akan lebih banyak berisi plastik dibandingkan ikan. Hal ini tentu akan menjadi dosa jariyah dan perbuatan dzalim kepada anak-cucu kita di masa depan.

 

Gerakan Diet Plastik

Diet tidak selalu tentang makanan, persoalan diatas mengharuskan kita melakukan diet sampah plastik. Memang sangat sulit untuk merubah kebiasaan kita yang sudah terlanjur nyaman dan ketergantungan menggunakan plastik sekali pakai, namun jika dilakukan sedikit demi sedikit dan dilakukan bersama-sama maka akan menghasilkan gerakan diet plastik yang besar dan berkelanjutan. Tidak harus menjadi aktivis lingkungan terlebih dahulu, dengan aksi sederhana diet plastik disetiap kegiatan rutin IPM (misal:rapat rutin) ini akan memiliki efek besar kepada lingkungan asalkan semua tingkatan pimpinan dapat memulainya. Begini caranya:

  1. Membawa tempat minum sendiri

Hasil audit yang dilakukan greenpeace pada tahun 2016-2019, sampah plastik ini didominasi oleh produk kemasan minuman:Wadah botol plastik, gelas plastik, air minum dalam kemasan lainnya. 

Hampir disetiap kegiatan IPM dapat dipastikan menggunakan air minum dalam kemasan, hal ini membuat IPM ikut menyumbangkan dosa ekologi. Mulai sekarang kita bawa tempat minum sendiri, di ruang kegiatan kita sediakan galon air isi ulang. Yok beralih !

  1. Kurangi penggunaan box

Tidak dipungkiri di setiap kegiatannya, IPM menyumbang sampah box makanan yang tidak sedikit. Selain tidak ramah lingkungan, jika dihitung box juga memperbesar anggaran keuangan. Gunakan piring kecil untuk wadah snack, konsep makan besar diubah ke prasmanan yang menghasilkan lebih sedikit sampah plastik, penggunaan box hanya untuk tamu-tamu undangan yang dimungkinkan tidak ikut makan ditempat.

Keliatan agak sulit ya ? bisa kok, beberapa Daerah sudah bisa berjalan dengan perubahan ini. Yok beralih !

  1. Gunakan tote bag atau paper bag

Coba kita ingat-ingat, dalam sehari atau setiap kegiatan kita bisa memegang kantong plastik berapa banyak ? Mengurangi kantong plastik sekali pakai sangat berpengaruh pada pengurangan sampah, beralih menggunakan tote/paper bag yang dapat digunakan beberapa kali. Berani menolak kantong plastik saat berbelanja itu keren !

 

Sebagai Student Earth Generation, cara mana yang sudah kamu lakukan untuk ikut menjaga lingkungan dari kejahatan sampah plastik ? kalau kamu sudah berusaha melakukan hal-hal diatas demi bumi dan lingkungan, hal selanjutnya adalah melakukan gerakan penyadaran kepada pelajar-pelajar di Indonesia supaya ikut peduli dengan isu-isu lingkungan sekitar.

Mengganti kebiasaan lama memang menantang, semua proses menuju gaya hidup ramah lingkungan perlu diapresiasi sekecil apapun. Ingat, bumi ini hanya pinjaman dari anak-cucu kita.

Semangat ! Kita dijalan yang benar !

Salam Lestari

Salam Literasi

  • Penulis adalah Muhammad Arif Syaifudin. Ketua Bidang Lingkungan Hidup PW IPM Jawa Tengah.  Bisa berkawan melalui  akun instagramnya @moehammadarifs
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Referensi:

https://ipm.or.id/student-earth-generation-seg/

https://www.greenpeace.org/indonesia/laporan/4230/krisis-belum-terurai/

 

Tags:
Berbicara Deforestasi, Peradaban Kita Bukan untuk Hari Ini Saja
Lokakarya Pra Musyda IPM Banjar Bahas Perkaderan Ala Gen Z
Mungkin anda suka:
Advertisement

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.