Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar

Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar

OpiniOpini Pelajar
265 views
Tidak ada komentar
Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar

Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar

OpiniOpini Pelajar
265 views
Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar
Politik Nilai dan Pendewasaan Pelajar

Sulit, untuk tidak menyebutnya mustahil, kabur dari politik di IPM. Ini bukan barang baru dan selalu disebut sebagai salah satu isu yang tak kunjung selesai. Tentu saya tak sedang ingin mengatakan politik itu baik secara utuh. Seringkali politik memakan korban dan menghancurkan karakter. Tetapi, izikanlah saya dalam tulisan ini untuk berusaha menjabarkan dan memantik diskusi melalui asumsi sederhana: Aktor dan praktik politik di IPM tak boleh dihindari. Justru, ia harus di-embrace­ dengan penuh keberanian dan jiwa kesatria.

Politik Moral, Politik Jalan Tengah

Berbeda dengan politik Machiavellian yang digambarkan picik (dan terkesan menghalalkan segala cara agar menang), saya ingin menggunakan istilah Politik Jalan Tengah sebagaimana dijabarkan oleh Ipmawan Yusuf Yanuri sebagai pola praktik politik yang ideal di IPM. Ia mendeskripsikannya terang: Politik Jalan Tengah adalah politik yang berpihak pada kepentingan pelajar. IPM berpihak pada “…kebenaran dan keadilan yang dilihat secara jujur dan tulus.”

Lain dengan dimensi politik yang serba kotor dan penuh siasat, di IPM, politik jauh lebih kompleks. Ada dimensi pendewasaan, nilai, dan kritisisme yang selalu dilibatkan di banyak pertimbangan. Lebih-lebih, karena basis masa IPM adalah remaja dan pelajar yang sedang mencari jati diri maka posisi kebenaran, keteladanan, dan keadilan punya tempat tersendiri dalam Politik Jalan Tengah ala IPM. Ini karena politik dalam konteks ini bukan hanya kendaraan untuk menuju apex of the organization, tapi juga apex of self-actualization. Moral dan nilai menjadi penting, sebab kader bertumbuh seiring dengan nilai yang dibentuk lewat pengalaman. Pada akhirnya, value dan ideologi jadi jauh lebih vital ketimbang urusan menang dan kalah.

Meski Politik Jalan Tengah membawa optimisme baru, tetapi dalam praktiknya model politik ini sulit diejawantahkan. Di satu sisi, ada kesadaran soal nilai politik yang inklusif dan berbasis meritokrasi, tetapi di sisi yang lain, imajinasi ideal seperti ini terkesan mereduksi unsur kompetisi yang justru berpotensi baik untuk melahirkan kader dengan daya tarung tinggi.

Politik yang berdasarkan profesionalitas dan meritokrasi bukan tak penting, tetapi biar bagaimanapun, kader IPM perlu politik untuk belajar bangkit dari kegagalan (resiliensi) dan konsisten menyuarakan kebenaran (determinasi). Lewat menang dan kalah, kader IPM melatih kedewasaan, idealisme, visi-gagasan, dan yang paling penting: Moral dan kewarasan.

Sampai pada titik inilah ada semacam dilema: IPM perlu kader dengan daya tarung tinggi tetapi nampaknya, politik yang ideal seperti Politik Jalan Tengah tak cukup untuk menciptakan kader dengan kualifikasi tersebut.

Emosi dan Daya Tarung

Singkatnya, alih-alih menghindari politik yang tak ideal, kader IPM justru harus belajar mewujudkan idealisme politiknya lewat kalah-menang kompetisi. Alasannya: hanya lewat kompetisi itulah pelajar bisa menumbuhkan daya tarung. Pelajaran hidup acap muncul dari kemenangan—atau kekecewaan.

Daya tarung memang punya makna yang luas, tetapi dalam konteks politik, kader dengan daya tarung biasanya ialah mereka yang memegang nilai yang kuat, berani, memahami dan siap dengan konsekuensi menang-kalah. Kader dengan daya tarung politik tinggi tak roboh saat dihujat. Mereka berjiwa kesatria dan tangguh. Sayangnya, menciptakan kader dengan kompetensi seperti ini tentu tak sederhana.

Daya tarung tak diciptakan sehari-dua hari sebab untuk memperoleh kemampuan tersebut, seseorang perlu mengalami pergulatan emosional dalam dirinya. Di sinilah politik bagi pelajar bekerja: Politik menstimulus manusia untuk mengendalikan emosi. Situasi politik tertentu membatasi atau membentuk bagaimana seseorang bereaksi dan meregulasi emosi. Sebaliknya, emosi juga kerap menentukan sikap bahkan transformasi politik seseorang.

Kaitan antara politik dan emosi bagi saya tak ubahnya seperti ungkapan: Nobody stays the same after the war. Ini karena dalam politik, perang sesungguhnya ialah dengan ego dan emosi diri sendiri. Setelah peristiwa politik, seseorang musti berubah. Bleiker & Hutchison (2021) bahkan menyebut bahwa dalam taraf tertentu, peristiwa politik tak jarang menjadi trauma bagi seseorang. Ini bukti bahwa dalam politik, cara manusia meregulasi emosi penting sekali dalam pembentukan jati diri dan kepribadian. Luka yang digores bisa jadi membekas selamanya.

Kader perlu belajar menerima, bersabar, bertekad, ngotot, marah, atau bahkan menangis. Itu semua adalah pelajaran penting dari politik. Regulasi emosi yang baik dan mindset untuk terus tumbuh adalah kunci membangun daya tarung yang tinggi.

Tentu dalam tulisan ini saya membatasi untuk tak membahas strategi kemenangan sebagai terjemahan dari ‘daya tarung’, sebab tak melulu petarung itu menang. Justru kader dengan daya tarung ialah mereka yang tak melulu menang, tetapi mampu bangkit melihat dunia dengan lebih optimis. Bagi saya, itu alasan utama mengapa bagi kader dan pelajar-pelajar, politik tak boleh dihindari. Lewat menang-kalah dan gontok-gontokan, politik dapat menjadi medium seseorang untuk bisa menjadi lebih dewasa.

Kata seorang kawan, kompetisi politik harus disikapi dengan emosi yang tenang. Ia bilang:

“Orang harus belajar puasa dari kekuasaan dan juga harus berbenah diri, mempersiapkan untuk yang selanjutnya.”

Transaksi Uang dan Intervensi Senior

Maka apa yang penting yang paling bisa diusahakan dalam melatih daya tarung politik kader IPM? Saya tak cukup mahir untuk memberi alternatif aliran politik, tetapi jawaban saya: Nilai dan moral—juga kedaulatan politik. Perlu diingat bahwa dalam tulisan ini, saya sama sekali tak menentang nilai dan moral sebagaimana dalam Politik Jalan Tengah. Justru saya berpendapat selaras dengan itu. Bahwa agar bisa mandiri, kader harus punya value utama yang dilandaskan pada moral dan maslahat. Kader menjadi bermakna, karena nilai yang dipegangnya. Nilai dan moral memang bukan currency, tapi justru karena itu ia harus dimiliki kader IPM: Agar mereka tak bisa dibeli.

Machiavelli memotret ini dengan baik. Katanya: “Friendships that are acquired by a price and not by greatness and nobility of spirit are bought but not owned, and at the proper moment they cannot be spent”.

Lalu mengapa kedaulatan? Karena tak mungkin orang bisa belajar bila banyak ‘diganggu’. Padi akan sulit tumbuh kalau diganggu oleh hama. Begitupun kader IPM. Ini poin utama dari argumen saya. Memperoleh kedewasaan politik harus terjadi lewat pergulatan kompetisi politik seseorang. Lewat menang dan kalahnya sendiri. Jadi, politik tak boleh diwakili orang lain.

Mereka harus dijauhkan dari hal-hal yang merusak proses belajar dan pertumbuhan. Di antara banyak sekali faktor, ada dua yang—menurut saya—bisa menghambat proses pendewasaan diri dalam kompetisi politik di IPM.

Pertama, pragmatisme buta. Politik di IPM erat kaitannya dengan nilai. Seseorang mungkin terhubung karena komunikasi, kolaborasi, pertemanan, atau sebagaimana disinggung sebelumnya: Faktor emosional. Nilai-nilai ini tak mungkin berarti kalau kader IPM “bisa dibeli”. Proses pendewasaan tak mungkin terjadi bila politik selesai dengan uang. Konsolidasi tak ada gunanya untuk proses belajar bila selesai dengan transaksi bohir-bohir politik. Tak ada proses belajar dan pertarungan dalam kompetisi yang “dibeli dengan uang”.

Kedua, intervensi senior. Intervensi bukan hal yang bisa ditolak atau dicegah. Kekadang, intervensi—apalagi intervensi senior—dalam politik di IPM musti terjadi. Hanya saja, untuk bisa belajar meregulasi emosi dan mendewasakan diri, seseorang harus merasakan langsung pengalamannya. Seseorang harus exercising leadership-nya. Proses belajar ini tak bisa terjadi kalau konflik dan intervensi senior terlampau berlebihan. Ini tak ubahnya seperti anda mengajari orang bersepeda, tapi tak kunjung lepas roda tiga. Tak mungkin seseorang bisa seimbang dengan paripurna, bila tak dicopot aksesoris lainnya.

Politik tak mungkin selalu ideal. Tetapi dalam imajinasi saya, nilai dan moral sebagaimana dalam Politik Jalan Tengah dan spirit kompetisi politik di IPM harus hidup. Kalaupun nilai yang dipegang bukanlah nilai yang ideal, kader yang melatih kedewasaan diri dengan berpolitik harus senantiasa mengamalkan spirit potongan surat Al-Baqarah ayat 148: Fastabiqul khairat.

Artinya, bukan cuma “berlomba-lomba dalam kebaikan”, tetapi juga “belomba-lomba menjadi yang terbaik”.

Politik Bukan Segalanya

Saya menulis ini bukan karena saya adalah pemenang ulung. Saya bukan jagoan. Saya korban politik juga, tetapi saya belajar banyak dari kekalahan-kekalahan itu. Saya belajar untuk menjadi tangguh.

Suatu saat di sebuah kompetisi politik, saya kalah. Saya menangis dan tersedu , tetapi Bapak menasehati saya. Katanya:

“Mas Ian adalah pemenang sejati karena sudah berusaha secara kesatria, cerdas, dan bermoral. Walaupun tertimbun lumpur, mutiara tetaplah mutiara.”

Saya belajar membangun nilai diri. Saya belajar mengevaluasi strategi. Saya belajar untuk tak takut mencoba dan menjadi pengecut. Dan yang paling penting, saya belajar:

Dalam politik, seseorang yang tak menang belum tentu kalah. Ia justru kalah, kalau ia menyerah.

  • Penulis adalah Brilliant Dwi IzzulhaqKetua PP IPM Bidang PIP. Bercerita, menulis, dan sedang belajar di Australia.
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
PP IPM Resmi Launching Logo dan Tema Milad IPM ke-63: Pelajar Berdampak, Indonesia Berdaya
PD IPM Jember Gelar Rakerda 2024: Elaborasi Gerakan Menuju Inklusivitas IPM Jember
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.