Sikap Kita Terhadap Polling Calon Formatur PP IPM

Sikap Kita Terhadap Polling Calon Formatur PP IPM

Milad 59 IPMOpiniOpini Pelajar
1K views
Tidak ada komentar

Sikap Kita Terhadap Polling Calon Formatur PP IPM

Milad 59 IPMOpiniOpini Pelajar
1K views

Malam Ahad lalu (12/7/2020) ada sebuah pesan berantai menarik via WhatsApp (WA). Pesan berantai itu memuat tautan polling Calon Formatur Muktamar PP IPM. Tautan ke pollingnya bisa diakses di sini.

Baik nama-nama maupun hasilnya asyik banget, tapi sebaiknya terhadap polling tersebut? Penulis nggak akan mengarahkan para pembaca sekalian untuk bersikap seperti apa. Melainkan penulis menyajikan ulasan-ulasan ringan dan biar kader IPM sekalian yang memutuskan bersikap seperti apa.

Kenapa Nggak Bikin Polling Sungguhan?

Situs tersebut memang menyediakan polling anonim, tanpa nama jelas dari pembuat. Selanjutnya, pesan berantai disebar oleh pengguna WA anonim, nomor tanpa nama. Padahal kan, semisal polling ini dibuat oleh pihak yang jelas malah makin menarik.

Misalnya, ada tim atau lembaga riset dari PD IPM yang membuat polling betulan. Kriteria surveinya ditentukan sedemikian rupa oleh LaPSI PP IPM, seperti itu malah keren. Bahkan bisa melatih kedewasaan kita dalam berdemokrasi sekaligus melatih para calon periset muncul dari ikatan kita tercinta.

Berdasarkan pengalaman riset-riset yang telah berjalan sejauh ini, survei lewat platform online sangat memungkinkan, lho. Contohnya lewat Google Form ataupun Survei Planet yang sejauh ini pernah dipakai riset dari kalangan IPM.

Tanpa Nama Tokoh Keren IPM?

Pemuncak polling tersebut pada Senin (13/7/2020 pukul 20.30 WIB) adalah Nabhan Mudrik Alyaum dengan 56 suara. Namun, hasil ini menimbulkan pertanyaan, sebenarnya pembuat polling tau keadaan terkini IPM nggak sih? Ada tokoh keren IPM, Hilal Fathurrahman (Ketua PP IPM Bidang KDI) misalnya yang namanya nggak muncul dalam daftar.

Selain Ipmawan Hilal, mestinya kalau hasil sesuai keadaan terkini, Ipmawan Multazam Ahmad Tawalla (Sekretaris PP IPM Bidang Organisasi) bisa memuncaki peringkat polling. Bukan seperti yang terjadi di polling tersebut.

Oh iya, kalau dilihat-lihat, sepertinya sebagian besar nama yang tertera merupakan calon peserta Taruna Melati Utama periode ini. Padahal sebenarnya banyak nama-nama potensial dari beragam wilayah yang perlu dimuat selain dalam daftar tersebut.

Malah di dalam polling muncul nama Ananul Nahari Hayunah di peringkat 9 besar. Nama ini memang keren, Anggota LaPSI PP IPM dengan pemikiran progresif dan semangat banget dalam literasi. Tapi, sepertinya saat ini Ipmawati Ananul nggak berada dalam struktur PW IPM. Padahal, sepanjang sejarah, hampir bisa dipastikan personalia dari PW IPM/PP IPM yang masuk ke dalam tim formatur.

Tapi, ya, bisa saja sosok Mbak Ananul yang keren ini besok membuat kejutan.

Polling Sama Sekali Nggak Menentukan

Ini yang paling penting dipahami. Polling lazim dipakai dalam negara atau organisasi yang menganut demokrasi terbuka. Misal, di Indonesia ada polling calon presiden, atau di Jakarta ada polling calon gubernur. Nah, perlu diperhatikan bahwa IPM seperti halnya Muhammadiyah menganut sistem demokrasi yang unik dengan pemilihan formatur, bukan ketua umum secara langsung.

Dalam kontestasi presiden atau gubernur saja polling belum tentu menentukan. Misalnya pada pilkada Jakarta 2017, Pak Anies Baswedan terpilih sebagai gubernur mengalahkan Pak Basuki Tjahaja Purnama. Padahal, hasil polling menunjukkan kalau Pak Basuki unggul ke mana-mana dibanding Pak Anies. Pun begitu dengan Pilpres Amerika Serikat tahun 2016, Bu Hillary Clinton yang menang sesuai hasil polling toh malah gagal, justru Pak Trump yang melenggang jadi Presiden AS.

Nah, untuk pemilihan terbuka saja polling sungguhan yang metodenya sudah teruji secara statistik nggak selamanya benar. Apalagi dengan pemilihan di IPM yang ditentukan hanya oleh beberapa pemegang suara tiap wilayah di wilayah dan daerah.

Demikian, semoga pembaca bisa menyimpulkan sendiri bagaimana bersikap. Yang jelas, kalau penulis dalam sisi mau berterima kasih kepada siapapun pembuat polling. Terima kasih karena pesan berantai yang disebarkan berhasil meramaikan grup dan meramaikan tagar #Milad59IPM. Ini penting banget karena akhir-akhir ini grup IPM pada sepi akibat pandemi. Tahu-tahu semalam jadi ramai seketika karena ada pesan berantai tersebut.

Oh, iya, tagar yang ada di bagian bawah pesan berantai perlu banget diviralkan. Besok, kalau ada yang mengajak meramaikan tagar untuk mencapai Trending Topic Indonesia di Twitter untuk Milad IPM, ikutan semua yuk!

* Catatan

  • Penulis adalah Ahmad Hawari Jundullah (Ketua Umum PW IPM DIY)
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis
Tags: , ,
Matinya Nalar Keilmuan dalam Tubuh IPM
Taruna Melati by Coursework atau by Research
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.