Meliterasi Kaum Hawa: Membangun Kembali Spirit Perempuan Cerdas Berdaya

Meliterasi Kaum Hawa: Membangun Kembali Spirit Perempuan Cerdas Berdaya

OpiniOpini Pelajar
1K views
Tidak ada komentar

Meliterasi Kaum Hawa: Membangun Kembali Spirit Perempuan Cerdas Berdaya

OpiniOpini Pelajar
1K views

Pada masanya Kartini dengan surat-suratnya berjuang menerobos sekat pemarginalan perempuan yang di paksa berjibaku hanya pada urusan dapur, sumur dan kasur. Melalui spirit liberasi yang diintepretasikan dalam bait-bait suratnya Kartini kala itu mendobrak penjajahan terhadap perempuan yang sudah mengakar di masyarakat sejak berabad-abad dan diterima dengan tidak berdaya oleh perempuan. Dari sini kita dapat melihat spirit untuk membebaskan perempuan menjadi manusia yang cerdas dan berdaya untuk membangun peradaban telah diihtiari sejak puluhan tahun lalu.

Kini, setelah berpuluh tahun itu berlalu apakah perempuan sudah berdaya?

Kita patut berbangga jika membaca tulisan Dr. Neng Darra Afifah dalam bukunya Potret Perempuan Muslim Progresif yang menunjukkan bahwa perempuan muslim terus bergerak memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan bahkan bukan hanya perempuan tetapi juga banyak sektor dari kehidupan. Dan banyak contoh-contoh lain gerakan atau organisasi perempuan yang hari ini terus berjuang memberdayakan perempuan dan menyelesaikan problem-problem kehidupan. Dalam tataran pelajar misalnya ada Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang dengan gigih dan intensif melakukan pencerdasan, pemberdayaan dan pembebasan lewat gerakan pelajar berkemajuan yang salah satu objeknya adalah pelajar putri.

Namun, sudah sejauh mana perjuangan itu membuahkan perubahan?

Di era percepatan teknologi informasi yang tengah berlangsung saat ini, proses pencerdasan, pemberdayaan dan pembebasan kepada perempuan tidak hanya sekedar menggelorakan spirit perubahan yang serta merta secara instan dan pragmatis dilakukan. Justru perubahan yang destruktif akan menciptakan manusia yang pragmatis dan disorientasi. Lalu Pencerdasan melalui apa? pemberdayaan seperti apa? dan pembebasan bagaimana yang dimaksud?. Disinilah yang kami yaitu untuk membangun kesadaran dan kemampuan literasi perempuan dan dijadikan pekerjaan kolektif yang perlu dipikirkan dan dimasifkan.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis, dalam perkembangannya literasi menjadi hal yang umum dan mainstream di dalam masyarakat sehingga muncul makna yang lebih luas dan terbagi dalam variable-varaibel seperti literasi media, literasi sekolah, literasi alquran dan lainnya. UNESCO menyebutkan bahwa kemampuan literasi kini menjadi hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, karena sifatnya yang multi effect atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas.

Dengan begitu meliterasi kaum “hawa” atau perempuan menjadi upaya membangun peradaban secara fundamental, dengan kemampuan literasi perempuan dapat merefleksikan setiap proses pembelajaran dalam kehidupan dan memformulasikan kembali kepada proses kehidupan yang lebih baik dan maju. Disinilah proses pencerdasan yang akan ditindaklanjuti dengan proses pemberdayaan dan ketika perempuan berdaya makan dia akan mengalami pembebasan proses pemikiran, menjalani kehidupan yang seimbang dan maju bahkan menciptakan generasi yang berdaya pula.

Gerakan ini dapat dikampanyekan sebagai gerakan “Meliterasi Perempuan” dengan membangun kesadaran dan kemampuan literasi perempuan. Diawali dengan hal hal sederhana yaitu one day one topic atau sehari membaca satu topic berita, pojok baca di rumah (missal kamar/dapur) tidak perlu berbentuk perpustakaan tetapi cukup artikel yang ditempel dan diganti setiap 2-3 hari sekali, pemberlakuan jam baca keluarga dan hari menulis. Melalui pembiasaan-pembiasaan sederhana ini akan membangun kesadaran, kemampuan dan kultur literasi bagi perempuan. Jika Literasi sudah menjadi kultur bagi perempuan maka secara massif dan teroganisir akan memberikan dampak yang lebih luas bagi kehidupan.

Di momen hari Kartini ini, mari kita bangun spirit untuk menjadi perempuan yang cerdas dan berdaya dengan membangun kemampuan literasi bagi perempuan. Semoga dengan gerakan sederhana “meliterasi perempuan” ini harapan dan cita-cita bersama untuk mewujudkan perempuan yang ceras dan berdaya semakin terlihat cahaya perubahannya.

*) Catatan

  • Penulis adalah Monica Subastia, Ketua Bidang Perkaderan PP IPM .
  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.
Merintis Usaha, Awali Baru Ambil Untung
Respon Kritis Pelajar Tentang Pemanasan Global
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.