Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender

Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender

OpiniOpini Pelajar
211 views
Tidak ada komentar
Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender

Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender

OpiniOpini Pelajar
211 views
Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender
Refleksi dan Otokritik untuk IPM yang Masih Bias Gender

Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day ditetapkan dan diperingati setiap tanggal 8 Maret di seluruh dunia setelah banyaknya pergolakan pada awal penetapannya. Selama bertahun-tahun perempuan sudah menunjukkan kekuatan dan kemampuannya yang dapat diperhitungkan di banyak bidang mulai dari kesenian, sains, olahraga, hingga politik.

Hari Perempuan Internasional ditujukan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi perempuan dalam masyarakat. Selain itu, IWD diperingati juga untuk meningkatkan kesadaran terkait perjuangan dalam menyuarakan kesetaraan gender. Dengan adanya Hari Perempuan Internasional, masyarakat secara nyata diharapkan dapat memberikan dukungan kepada perempuan, mulai dari kesetaraan hingga pencegahan kekerasan.

Tema yang diusung untuk memperingati Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah Break The Bias. Perempuan turut diajak untuk berani menyuarakan pendapatnya dengan berbagai cara sehingga suaranya dapat diakui oleh orang-orang di sekitar. Tema ini diharapkan dapat menjadi sorotan bahwa pentingnya menyuarakan bias gender agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat memengaruhi peran perempuan dalam masyarakat untuk ke depannya.

Melalui tema ini, perempuan dunia berharap dapat terciptanya dunia yang bisa terlepas dari bias, stereotip, hingga diskriminasi. Lalu, apa hubungannya Hari Perempuan Internasional dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah?

Hari Perempuan Internasional dan IPM

Pertama, Muhammadiyah dengan tegas menyatakan posisi perempuan sama dengan posisi laki-laki. Akan tetapi, implementasi yang dilakukan oleh IPM masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya struktur bidang tertentu yang masih dominan diisi oleh salah satu gender. Ini menandakan bahwa, narasi yang digaungkan oleh Muhammadiyah belum benar-benar sampai kepada IPM.

Kedua, sebagai organisasi pelajar yang di dalamnya terhimpun dari laki-laki dan perempuan, IPM masih mengotak-ngotakkan perihal tugas dan posisi bukan karena potensinya. Semisal pada kepanitiaan, seperti divisi acara dan konsumsi yang diisi penuh oleh Ipmawati. Selain itu, bidang-bidang IPM, seperti Kewirausahaan dan KDI yang masih banyak diisi oleh Ipmawati.

Hal tersebut terjadi karena perempuan masih dianggap dekat dengan unsur-unsur feminin. Padahal pada tingkatan pelajar, kita justru harus mengembangkan diri masing-masing dan mempelajari banyak hal untuk meningkatkan kualitas yang dapat memberikan dampak baik untuk IPM.

Ketiga, nyatanya masih banyak kader IPM yang menganggap topik yang terkait dengan perempuan adalah hal yang kurang penting dan tidak menaikkan eksistensi bagi yang membahasnya. Malah dianggap aneh dan tabu. Ini dapat terlihat dari pembahasan-pembahasan yang dinarasikan hanya oleh bidang Ipmawati di IPM. Hal ini menandakan bahwa IPM masih menciptakan sekat terkait topik keperempuanan.

Sudahkah Ipmawati diberi ruang untuk menyampaikan pandangannya tanpa dia harus merasa didiskriminasi atau tersudutkan seolah-olah apa yang disampaikan adalah hal yang tidak tepat.

Apakah ketika Ipmawati berani melawan, sudah terjamin bahwa tidak ada lagi labeling negatif yang disematkan kepadanya. Seolah-olah memandang bahwa perlawanan adalah suatu hal yang tidak pantas untuk dilakukan oleh Ipmawati.

Apakah suara Ipmawati sudah benar-benar didengarkan bahkan dijalankan jika memang yang disuarakan adalah hal yang benar dan malah membantu pergerakan di IPM.

Besar harapan, IPM tidak hanya fokus kepada isu-isu perkaderan, keilmuan, dakwah, dan lain-lain. Karena sebenarnya, hal-hal tersebut jika dikaitkan dengan keperempuanan, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Memang, sudah banyak perkaderan-perkaderan yang diisi oleh Ipmawati. Begitu juga dengan gerakan keilmuan dan penyampaian dakwah serta bagian lainnya. Akan tetapi, tidak cukup sampai di situ. IPM harus menjadikan isu-isu gender sebagai hal yang juga tidak kalah pentingnya untuk dibahas oleh IPM sendiri.

Bagi saya, IPM salah satu ortom yang cukup kompleks dan menyentuh segala lini kehidupan. Maka, sangat disayangkan kalau hal seperti ini kurang dijadikan fokus oleh IPM sebagai salah satu organisasi pelajar. Mengingat, masih banyaknya bias gender yang terjadi di kalangan IPM maupun pelajar.

IWD merupakan momentum bagi IPM untuk kembali belajar dan menyadari isu-isu gender serta isu perempuan yang sering terjadi dan sebenarnya dekat dengan IPM, tetapi masih kurang diperhatikan oleh IPM.

  • Penulis adalah Anisa Fatjriani. Bidang PIP PD IPM Kota Padang 2020-2022. Baru bergabung ke dalam Tim Kajian dan Aksi Strategi Ipmawati PP IPM 2021-2023. Baru suka menulis tipis-tipis, tapi belum serius. Semua serba baru.
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
Tags: , , ,
PP IPM Loloskan Seluruh Pendaftar Taruna Melati Utama: Saatnya Perkaderan Berbenah?
Adakan PKDTM 1, IPM Haurgeulis Angkat Tema Ekoliterasi
Mungkin anda suka:
Advertisement

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.