Masifnya arus negatif globalisasi yang melanda kultur dan budaya Indonesia berimbas pada suburnya sifat individualis dan apatis yang menyeluruh di kalangan pelajar. Gejala tersebut adalah konsekuensi struktural yang bisa dilacak akarnya. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dalam Islam and Secularism, memandang sekularisasi bukan sekedar proses politik, melainkan program filosofis yang mengarah pada desekralisasi alam dan tercerabutnya aspek spiritual pada individu. Dalam ranah pendidikan, proses sekularisasi ini termanisfestasi dalam kurikulum yang menafikkan dimensi spiritual dari realitas. Lebih lanjutnya, pembelajaran bermuatan nilai keislaman seringkali termarjinalkan dan bahkan tidak eksis.
Indonesia sendiri telah mengenal upaya dikotomi pendidikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Persepsi ini bisa dilacak sejak era kolonial Belanda ketika menerapkan politik etisnya. Pendirian sekolah rakyat ditujukan hanya untuk mencetak tenaga kerja dengan upah rendah tanpa perlu mempertimbangkan aspek moralitas apalagi spiritual. Kini, walaupun secara sistem institusi pendidikan umum telah memasukkan pembelajaran agama atapun sebaliknya–seperti yang dilakukan Muhammadiyah, Pondok Pesantren Gontor, dan sebagainya–isu liberalisasi dan sekularisasi tidak berhenti merecoki sistem pendidikan kita saja, namun juga telah masuk dalam ranah pemaksaan paradigma individu.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bahkan secara terbuka mengkritisi fenomena liberalisasi pendidikan yang berkembang pesat akhir-akhir ini, yang salah satu konsekuensinya adalah masifnya komersialisasi pendidikan. Proses ini juga menjadi bagian dari “pencerabutan” yang meyangkut aspek kebudayaan dan religiusitas, akibat pemahaman agama yang tekstual di satu sisi dan liberalisasi-sekularisasi di sisi lainnya. Dampak terbesarnya sejalan dengan apa yang diperingatkan Al-Attas, bahwa sekularisasi ilmu pengetahuan menyebabkan terjadinya kekacauan makna dan berujung pada individu yang tidak bisa membedakan kebenaran yang sejalan dengan agama.
Di sisi lain, berbagai isu sosial, politik, ekonomi yang tidak pernah mati di masyarakat seringkali luput dalam navigasi pelajar. Golongan pelajar terkadang menganggap bahwa tugas mereka hanyalah sebatas belajar, meraih prestasi, membanggakan sekolah, dan segala hal yang jauh dari aspek sosial kemasyarakatan. Problematika yang lalu lalang dianggap hanya akan usai di tangan pemerintah, teknokrat, dan ahli. Pendidikan dianggap terpisah dari spektrum sosial dan kesadaran kolektif diganti dengan kesadaran individualis. Fenomena inilah yang menjadikan pelajar hanya sebagai robot industri pendidikan dan seolah tak memiliki andil atas perubahan diri mereka sendiri.
IPM Sebagai Aksentuator Gerakan Pelajar
Pembenahan sistem seperti integrasi kurikulum, revisi dikotomi ilmu, juga penguatan kualitas guru, sejatinya merupakan pekerjaan jangka panjang dan perlu dilakukan secara bertahap. Kewenangan perubahan sistem tentu dititikberatkan pada pemangku kebijakan. Namun, bukan berarti IPM hanya diam dan menunggu. Justru di titik inilah IPM perlu hadir sebagai penyeimbang, penguat, dan penggerak.
Audere est facere – Keberanian dibuktikan lewat tindakan, adalah ungkapan yang dibutuhkan dalam mempertanggungjawabkan hasil belajar yang telah didapatkan. IPM harus mewujudkan konsep pelajar dedikatif implementatif sebagai solusi atas maraknya berbagai permasalahan yang ada, utamanya merespon sistem pendidikan yang menempatkan pelajar sebagai objek tunggal, bukan subjek, serta memitigasi upaya liberalisasi sistem dan paradigma pelajar islam. IPM sebagai wadah eksplorasi pelajar Muhammadiyah perlu mencetak kader-kader yang memiliki tingkat kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap sekitar. Sebagai bentuk yang konsekuen terhadap nafas keilmuan yang diusungnya, IPM memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan pelajar kepada nilai keislaman yang diwujudkan dalam gerakan filantropi maupun safari keilmuan yang nyata.
IPM juga perlu menguji dirinya sendiri ketika mencitrakan diri sebagai gerakan pelajar. Memiliki tingkat kepedulian dan kepekaan yang tinggi saja belum cukup dalam mengatasi isu sosial. Perlu ada berbagai aksi yang diwujudkan dengan mekanisme yang terstruktur dan terukur, tetapi tetap dengan gaya dan pedekatan menggembirakan ala pelajar. Dalam hal ini, IPM sebagai aksentuator pergerakan pelajar dan dakwah Muhammadiyah harus menjadi pionir dan pelopor utama.
Sebagai anak kandung Muhammadiyah, IPM memiliki tugas dalam menjalankan dakwah di kalangan pelajar. Dakwah yang dibawa oleh IPM tidak hanya melalui forum keagamaan yang mungkin cenderung dianggap membosankan bagi sebagian anak muda, tapi melalui gerakan variatif yang bersentuhan langsung dengan aktivitas dan lingkungan sosial. Dengan menyisipkan nilai keislaman yang diwujudkan melalui program aksi dan pendekatan moril yang islami, IPM akan mengurangi dampak arus sekularisasi dan mengembalikan pelajar kepada falsafah pendidikan berkeadaban dan meningkatkan spiritualitas secara alami.
Pergerakan Pelajar Harus Multikompetensi
Peran IPM sebagai penyambung ide pelajar menjadi sebuah gagasan maupun pergerakan harus ditekankan lebih. Dalam pelaksanannya, dibutuhkan kolaborasi dan konsistensi yang aktif dari pihak sekolah, masyarakat, dan IPM untuk menjadi jawaban atas berbagai permasalahan. Semua upaya yang dicanangkan perlu mendapat perhatian dari masyarakat luas dan sudah sepatutnya IPM yang akan menarik atensinya.
Langkah-langkah tersebut menegaskan bahwa IPM tidak menunggu sistem sempurna untuk bergerak. Justru selama sistem masih timpang dan dipenuhi pertanyaan, IPM hadir sebagai jawaban. Peran vital untuk menyambungkan pendidikan, realitas pelajar, dan prinsip keislaman sudah sepatutnya jadi orientasi pergerakan IPM hingga kapanpun.
Era globalisasi pendidikan adalah ladang uji coba bagi IPM tentang sejauh mana ia bisa bertahan dengan idealismenya namun tetap mengikuti perkembangan yang ada. Berbagai permasalahan yang timbul adalah halang rintang yang tidak boleh disingkirkan melainkan dihadapi dengan kesiapan yang nyata; di antaranya oleh IPM sebagai pionir pergerakan pelajar dan masyarakat sebagai pemangku kehidupan.
IPM adalah suara. IPM adalah gerakan yang menyeruak di tengah-tengah pergerakan dan kebijakan yang stagnan. Ia harus memiliki nilai segar dan gagasan yang out of the box. IPM akan membawa harkat dan martabat pelajar dalam meneruskan langkah sejarah untuk menyingkap tirai gelap menuju peradaban yang cerah mencerahkan.
- Penulis adalah Penulis adalah Kelana Yudinta Akbar, demisioner Anggota PIP PC IPM Bojonegoro Kota 2021-2023 dan tengah mengeyam pendidikan S1 Sosiologi di Sakarya University, Türkiye. Bersapa dan berkenalanlah dengannya di instagram @keeyudinta_
- Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis.





































