Banyak orang pergi ke sekolah setiap pagi, tapi hanya sedikit yang benar-benar belajar. Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya ingin mengajak seluruh pelajar Indonesia melakukan refleksi yang lebih tajam: Berhentilah sekadar “bersekolah”, dan mulailah belajar.
Kesenjangan dalam Dunia Pendidikan Kita
Mengapa? Karena data menunjukkan adanya kesenjangan besar antara “kehadiran fisik di sekolah” dengan “kualitas kompetensi”. Menurut laporan PISA (Programme for International Student Assessment) terbaru, skor literasi dan numerasi pelajar kita masih menghadapi tantangan besar untuk bersaing di tingkat global.
Riset dari World Bank juga sering menyoroti fenomena “learning poverty“, di mana anak-anak bersekolah namun belum tentu mampu memahami bacaan sederhana. Ini adalah alarm bagi kita bahwa rutinitas administratif di kelas tidak boleh dianggap sebagai puncak dari pencapaian intelektual.
Sekolah seringkali hanya menjadi tempat mengejar angka di atas kertas. Namun, belajar adalah proses tanpa henti untuk mencari solusi atas kegelisahan zaman. Jangan biarkan tembok kelas memenjarakan rasa ingin tahu Anda. Di era digital ini, tantangan terbesar kita bukan lagi soal akses informasi, melainkan bagaimana menavigasi diri di tengah riuhnya arus data yang seringkali bias.
Konsep Bernama “Algoritma Pelajar”
Inilah mengapa saya secara konsisten mengikhtiarkan konsep “Algoritma Pelajar”. Kita tidak boleh hanya menjadi objek pasif yang didikte oleh algoritma media sosial. Kita harus menjadi subjek yang berdaulat secara berpikir, memiliki etika digital yang kokoh, dan daya kritis yang tajam. Pendidikan sejati adalah “ikhtiar” untuk hadir sebagai jawaban bagi kecemasan masyarakat, bukan sekadar untuk mengejar status atau posisi.
Kepemimpinan dan pendidikan bagi saya memiliki satu muara: “Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta”. Artinya, ilmu yang kita dapatkan tidak boleh berhenti di kepala, ia harus turun ke bumi menjadi aksi nyata yang solutif bagi sesama.
Mari kita bangun era baru. Pendidikan yang sejati adalah yang membebaskan jiwa, mengasah empati, dan membuat kita berani bermimpi melampaui batas layar gawai kita.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Dari sini, masa depan Indonesia mulai kita tulis sendiri.
Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun.
- Penulis adalah Dany Rahmat Muharram, Ketua Umum PP IPM Periode 2026-2028.
- Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.



































