Selingkuh dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme

Selingkuh dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme

OpiniOpini Pelajar
276 views
Tidak ada komentar
Selingkuh Dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme

Selingkuh dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme

OpiniOpini Pelajar
276 views
Selingkuh Dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme
Selingkuh Dari IPM: Antara Diaspora atau Dualisme

“Hidup tak selalu mengerjakan apa yang kita cintai, tapi kita bisa belajar untuk mencintai apa yang kita kerjakan” – Andrea Hirata (Orang-orang Biasa)

Pada dasarnya, setiap organisasi pasti dan akan membutuhkan sebuah komitmen serta loyalitas dari setiap anggotanya untuk mencetak kader yang militan yang nantinya akan sangat berguna untuk mencetak potensi dalam estafet kepemimpinan di roda organisasi.

Namun, tak jarang kita temui banyak orang yang mempunyai kemampuan multitasking yang mereka gunakan untuk mengikuti banyak organisasi yang berbeda dengan suatu kebanggaan bahwa semua bisa dihandlenya dengan baik. Tetapi, saya tidak sepenuhnya percaya hal tersebut karena saya juga pernah mengalami kewalahan dalam mengikuti banyak organisasi yang berbeda dalam satu waktu sekaligus.

Tidak Semua Orang Mampu Multitasking

Bagi orang awam, men-double menjadi pengurus di banyak organisasi sekaligus itu dipandang keren dan dianggap punya banyak jaringan sehingga hampir semua orang bisa dipastikan mempunyai keinginan untuk melakukan hal yang sama dengan mencoba mengikuti banyak organisasi sekaligus. Namun, setiap orang punya kapasitas berpikir dan daya tahan tubuh serta kesibukan yang berbeda-beda. Maka, bisa disimpulkan bahwa tidak semua orang bisa mengklaim diri memiliki kemampuan super dalam multitasking mengikuti banyak organisasi sekaligus.

Kebanyakan seorang organisatoris mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk mengikuti banyak organisasi sekaligus asalkan sanggup memprioritaskan mana yang lebih penting. Namun, arti kata “penting” bagi semua orang justru sangat berbeda tergantung pada cara berpikirnya dan ambisi yang akan dia tuju nantinya.

Kalau boleh saya ubah paradigma tersebut, maka, kita harus membangun prioritas kepad aorganisasi yang menurut kita paling membutuhkan tenaga kita yang biasanya adalah organisasi minoritas dengan anggota yang sedikit dan dengan militansi yang rendah pula serta ditambah dengan sumber daya keuangan yang minim pula. Sehingga, kita bisa menggunakan metode Appreciative Inquiry untuk mendayagunakan organisasi minor tersebut terlebih dahulu.

Organisasi lain yang memiliki privilege lebih seperti Sumber Daya Manusia (SDM) melimpah, keuangan yang stabil, serta kualitas kader yang memiliki militansi tinggi memang seharusnya dinomorduakan dalam tanda petik pada kasus seperti ini.

IPM dan Fenomena Rangkap Jabatan

Di IPM, fenomena rangkap jabatan seringkali dipandang sebagai hal yang lumrah terjadi dan belum banyak yang mempertimbangkan soal akibatnya pada tubuh IPM sendiri. Jangankan rangkap di organisasi selain IPM, terkadang tidak jarang ditemui juga kader yang rangkap jabatan di IPM sendiri hanya saja beda tingkatan misalnya rangkap di Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang atau seterusnya.

Menurut saya, rangkap jabatan bukan persoalan perbedaan ideologi organisasi yang diikuti karena bahkan kalau ikut Ortom pun jika tidak bisa membagi waktu ya sama saja sepertinya. Namun, yang dipersoalkan adalah tentang integritas dan komitmen dalam organisasi tanpa peduli organisasi apapun yang dirangkap. Jika sudah terjadi ketimpangan dalam kepengurusan IPM, maka akan timbul juga kecemburuan sosial apalagi jika melihat organisasi yang dirangkapnya bisa lebih aktif dan lebih hidup daripada IPM itu sendiri.

Selingkuh dari IPM: Diaspora atau Dualisme?

Inilah yang saya sebut sebagai fenomena selingkuh dari IPM, sebuah kondisi dimana seorang kader IPM tidak bisa membedakan mana yang termasuk dualisme dan mana yang termasuk diaspora. Kalau boleh mengutip perkataan dari Jenderal Besar Soedirman tentang beratnya menjadi kader Muhammadiyah dan jika tidak kuat maka lebih baik mundur saja. Kutipan ini ada benarnya. Jika hanya menjadi parasit bagi IPM maka lebih baik mundur saja, kalau merasa diri sudah tidak mampu lagi daripada mengakibatkan mandeknya kinerja organisasi.

Kecemburuan sosial tersebut menghasilkan sebuah problematika baru seperti terhambatnya kinerja organisasi, kacaunya kepengurusan internal, hingga vakumnya sebuah organisasi, bisa saja terjadi jika hal seperti ini terus–terusan dianggap sebagai bukan masalah penting, namun yang terjadi di lapangan adalah fenomena ini justru menjadi parasit yang menggerogoti IPM sedikit demi sedikit.

Opini yang saya bangun di sini, sama sekali bukan menyudutkan atau justru tidak suka pada kader yang sering merangkap jabatan. Namun, disini saya menghadirkan buah pemikiran kecil saya sebagai bahan evaluasi kita semua bahkan saya sendiri sebagai kader IPM untuk bisa bersikap andhap asor agar tungku perjuangan IPM ini tetap menyala dengan bara militansi dari para kader–kadernya yang berintegritas.

IPM hanya akan menjadi wadah kosong yang hampa jika kadernya terus–terusan bepergian satu-persatu meninggalkan fosil perjuangan yang telah usang, saya rasa pada materi manajemen organisasi perlu ditambahkan juga uraian materi tentang manajemen diri agar kader lebih bisa membedakan mana yang dualisme dan mana yang diaspora. Namun selain itu, saya sangat bangga ketika melihat banyak kader IPM yang tersebar di tempat-tempat penting yang bisa bermanfaat bagi bangsa, negara dan agama.

*) Catatan

  • Penulis adalah Muhammad Harish Ishlah, Ketua Bidang Advokasi PD IPM Gresik.
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
Tags: , ,
Pandemi Belum Berakhir, IPM Sumsel Salurkan 3000 Paket Sembako
Suara dari Akar Rumput
Mungkin anda suka:
Advertisement

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.