Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar

Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar

OpiniOpini Pelajar
407 views
Tidak ada komentar
Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar

Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar

OpiniOpini Pelajar
407 views
Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar
Membudidayakan Literasi Sebagai Pemberantas Hoax Bagi Pelajar

Indonesia adalah salah satu negara yang menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Namun, berdasarkan hasil survey World Culture Index Score 2018, kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan. Indonesia menempati urutan ke-17 dari 30 negara dengan literasi yang masih rendah.

Dalam hal membaca, rata-rata orang Indonesia menghabisakan waktu membacanya sebanyak enam jam/minggu, mengalahkan Argentina, Turki, Spanyol, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, italia, Mexico, Inggris, Brazil, Taiwan, Jepang dengan masing-masing tiga jam/minggu. Maka, dari situlah kita sebagai warga Indonesia khususnya pelajar harus mampu bersaing dengan negara di luar dari pada itu.

Lemahnya Kemajuan Teknologi Masa Sekarang

Sebenarnya tidak begitu signifikan sekali adanya teknologi di Indonesia dapat memberi gelar teknologi yang maju. Kemajuan teknologi dalam digital pun seperti sebuah pisau bermata dua, satu sisinya dapat memberi suatu kemudahan bagi penggunanya yang dimana dalam teknologi dapat memberi sebuah tempat persinggahan untuk mencari sebuah ilmu lebih dalam lagi. Namun, sisi lainnya dapat memberi efek negatif untuk penggunanya, dapat merusak pemahaman seseorang jika itu tidak digunakan dengan bijak.

Mudahnya teknologi khususnya pada masa sekarang ini, sudah bisa dijadikan sebagai lauk bagi seluruh pelajar. Teknologi dapat memudahkan penggunanya, yang dimana pembelajaran di sekolah pun sudah dipindahkan di rumah saja atau biasa yang kita kenal daring.

Pelajar dapat mengakses dengan mudahnya dan santai dirumah melalui aplikasi unggul seperti Zoom Meeting, Google Meet, Google Classroom, Whatsapp dan lain sebagainya.

Membahas sebuah kemajuan, pasti ada kebalikan dari itu.  Yaitu, kemunduran atau kekurangan atau juga kelemahan. Kelemahan teknologi bisa kita lihat juga dari sudut luasnya sebuah akses dari teknologi tersebut, yang tanpa kita sadari, justru pelajar itu sendiri terseret ke hal yang tidak baik.

Dengan contoh kecil saja, yaitu berkurangnya kesopanan bagi pelajar pada saat pembelajaran daring tadi, yang dimana pelajar mematikan kameranya pada saat guru/dosennya menerangkan sebuah materi yang kita tidak tahu kebenaran pelajar tersebut sedang melakukan apa.

Sudut pandang sesorang pun jelas berbeda, dan pasti akan ada yang berpikiran negatif atau memang ada yang berpikiran positif.

Namun, disini kita pun tidak bisa menuntut banyak tentang hal tersebut sebab beberapa guru/dosen pun hanya memiliki tugas untuk mengajar saja. Jarang juga ada guru/dosen yang mampu merangkul anak didiknya.

Dalam penggunaan teknologi, hal yang wajib banget untuk dihindari ialah penyebaran berita atau informasi bohong, yang biasa kita kenal hoax.

Tantangan Pelajar Terhadap Hoax

Menurut laman Merdeka.com, hoax adalah kabar, informasi, berita palsu atau bohong. Dalam KBBI disebutkan bahwa arti hoax adalah berita bohong. Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya.

Dengan kata lain, arti hoax juga bisa didefinisikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan, tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Jadi, dari banyaknya pelajar akan terikut arus teknologi yang salah. Informasi yang belum diolahnya terlebih dahulu, yang hanya melihat dari penampilannya saja dapat membuat pelajar tersebut tertarik untuk menyebar luaskan informasi tersebut.

Membahas sebuah hoax, ada banyak keresahan bagi kita sebagai pelajar. Bisa kita ambil contohnya saja seperti link-link yang tidak jelas sumbernya namun melabelkan bahwa link tersebut adalah link give away, yang jika kita klik tersebut akan dibawa perintah untuk menjawab pertanyaan lalu setelahnya diminta untuk menyebar luaskan kembali. Kita dapat menyebutnya dengan link phising.

Menurut laman Wikipedia, web phising (pengelabuhan) adalah situs web yang dirancang untuk melakukan bentuk penipuan dengan cara percobaan untuk mendapatkan informasi sensitif, seperti nomor kartu kredit, kata sandi, atau data-data credentials lainnya.

Web phising biasanya berbentuk menyerupai website asli baik dari segi tampilan maupun nama domain dengan tujuan untuk meminimalisir kecurigaan calon korban.

Dapat kita simpulkan link atau web phising ini berbahaya untuk kita apalagi pelajar, bukan hanya media sosial saja nantinya yang akan dibobol atau diretas. Bahkan di negara luar saja sudah sampai membobol e-money seseorang.

Maka tak heran jika hoax yang ada di indonesia termasuk dalam tingkatan parah, karena sebegitu mendalamnya hingga menyangkut hal-hal penting dan mengganggu stabilitas negara jika hoax tersebut berlanjut. Namun, sepertinya banyak hoax disini yang “disengaja” untuk ada, karena menyangkut isu tertentu dan menimbulkan pro-kontra antara dua pihak.

Untuk dapat memilah antara hoax dan yang bukan hoax memerlukan kemampuan menganalisis dan wawasan yang baik. Jadi, wajar kalau masih banyak yang kesulitan untuk membedakannya.

Dunia pendidikan menjadi salah satu yang bertanggung jawab untuk menghasilkan generasi yang cerdas dalam menghadapi serbuan hoax, dan menghasilkan generasi yang tidak suka membuat hoax.

Langkah Konkret Menghindari Hoax

Pertama, pastikan jumlah akun media sosial sesuai dan seimbang dengan kebutuhan asupan personal, sosial, dan transaksional setiap harinya. Sehingga terhindar dari obesitas akun media sosial.

Kedua, pastikan jadwal mengakses media sosial pada waktu yang tepat untuk mencerna tiap harinya, sehingga kebutuhan tetap eksis terjaga dengan efisien dan kadar hoax tidak melonjak.

Ketiga, pastikan jenis media sosial kita seimbang sesuai dengan usia dan lingkungan, sehingga terhindar gangguan metabolisme perasaan dan bocornya data pribadi.

Keempat, tanamkan pada diri jika menerima sebuah informasi harus dapat diolah terlebih dahulu. Apakah sudah baik informasi tersebut, apakah sudah menjadi informasi yang layak dikonsumsi. Nah, lalu bisa kita bagikan kepada sekitar akan bermanfaat bersama.

Pandangan Literasi untuk Meminimalisir

Mengembangkan budaya membaca di kalangan pelajar untuk memastikan si pelajar mampu dan paham membaca perkembangan teknologi termasuk konsekuensi pesan di dalamnya secara kritis.

Lalu berpikir lebih penting adalah menggunakannya secara bijak, tidak hanya berkaitan dengan konflik sosial. Hal ini penting sebagai upaya untuk menangkal gejala radikalisasi agama yang marak menggunakan media media sosial.

Saat tingkat membaca pelajar tinggi, maka kosa kata akan bertambah. Kerja otak akan semakin optimal, wawasan bertambah dengan berbagai informasi baru, mempertajam pemahaman diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca, melatih kemampuan berpikir dan menganalisa, meningkatkan fokus dan konsentrasi seseorang, dan juga melatih kita dalam hal menulis dan merangkai kata-kata yang bermakna.

Semua ini kita lakukan agar seiring perkembangan sosial ini memungkinkan kita sebagai pelajar bisa saja menerima atau menyebar berita palsu. Hoax sangat berpengaruh besar terhadap persatuan dan kesatuan serta perkembangan bangsa, untuk itu kita harus sangat selektif dalam menerima atau memberi berita.

*) Catatan

  • Penulis adalah Okta Arianti, Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Kalimantan Utara Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP).
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis.
Tags: ,
Lomba Logo Muktamar XXII IPM
96 Jam Non Stop! PD IPM Batam Sukses Gelar PKTM 2
Mungkin anda suka:
Advertisement

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.