Internet, Mendekatkan yang Jauh dan Menjauhkan yang Dekat

Internet, Mendekatkan yang Jauh dan Menjauhkan yang Dekat

Opini
2K views
2 Komentar

Internet, Mendekatkan yang Jauh dan Menjauhkan yang Dekat

Opini
2K views

Internet itu netral tergantung siapa yang menggunakannya dan bagaimana digunakannya. Fenomena internet yang sering kita dengar saat ini adalah internet mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Banyak hal menjadi lebih mudah dengan internet, seperti:
Dulu berkomunikasi lewat Wartel (warung telepon), sekarang melalui Whatsapp
Dulu mencari tau informasi dengan membuka RPUL atau RPAL, sekarang dengan berselancar di Google
Dulu bepergian kemana-mana naik angkot atau bus, sekarang bisa pesan dan naik transportasi online
Dulu menonton televisi dan membaca majalah, sekarang bisa menonton segala hal lewat youtube
Dulu melihat lokasi menggunakan peta atau atlas, sekarang dipermudah dengan adanya Google maps

Juga banyak profesi baru yang muncul seiring berkembangnya internet, seperti:
Konten kreator, online seller, kreator teknologi, gamers atau e-sports.

Namun nyatanya, ada risiko atau masalah yang terjadi berbarengan dengan hadirnya internet. Apa aja risikonya jika tidak pandai menggunakan internet?
1. Kecanduan Gadget
Kecanduan gadget yang dimaksud adalah dalam waktu yang lama membuka youtube, sosmed, chatting, drakor atau kecanduan games. Padahal ada akibat lain dari paparan sinar biru pada gadget, yaitu:
Terganggunya produksi melatonin yang mengakibatkan siklus tidur rusak.
Jika siklus tidur rusak, kemampuan berpikir dan merespon menjadi lambat, mudah lupa, konsentrasi turun sehingga potensi tidak optimal.
Jika siklus tidur rusak, (HGH) hormon pertumbuhan yang keluar signifikan pada malam hari menjadi terganggu sehingga pertumbuhan tidak optimal.

2. Cyberbullying
Bullying itu mencederai perasaan, fisik, dan harga diri seseorang. Saat ini jempol sudah lebih jahat dibanding mulut, jangan sampai kita merasa bebas bicara apa saja karena tidak ada yang bisa melihat kita dimana.
Cara menangani Cyberbullying:
a. Bisa memilih mana informasi yang kita terima (dimasukkan hati) atau diabaikan
b. Menjaga etika berbicara dimanapun, baik di dunia nyata maupun di internet
c. Belajar dari orang lain yang masih bisa menahan bahkan makin banyak berkarya walau dibully
d. Hindari untuk menjadi pembully (pelaku), karena banyak orang yang sakit hati, stres, bahkan bunuh diri karena tidak tahan dibully. Bayangkan perasaannya kalau kita sedang ada di posisi dia. Dengan begitu kita bisa berlatih untuk berempati dengan orang lain
e. Sadari pada dasarnya membully itu bisa merusak perasaan dan harga diri seseorang. Dan salah satu akhlak yang tidak terpuji

3. Merebaknya Hoax
Perlu dipahami bahwa dalam internet, semua orang dapat mengunggah dan menyebarkan informasi, tidak terkecuali orang yang asal bicara atau sengaja menyebarkan informasi yang tidak benar. Karena itu kita harus bisa memfilter informasi dan yang terpenting adalah memiliki kemampuan untuk berpikir kritis.

Dampak berita hoax
Hoax membuat pembacanya memiliki opini yang salah. Opini yang salah membentuk ucapan dan tindakan yang salah juga. Bayangkan apa yang terjadi jika tindakan kita didasari oleh kesalahan? Tak hanya perbedaan pendapat saja yang dapat terjadi, tapi juga keributan bahkan berujung pada perpecahan.

Ciri-ciri Hoax dan SARA
a. Bersifat provokatif atau menyudutkan salah satu pihak
b. Sumber tidak jelas & tidak kredibel
c. Memberikan link atau arahan mengunjungi situs tertentu yang tidak jelas
d. Iming-iming rewards menarik, mulai dari hadiah gratis hingga dapat pahala dan masuk surga
e. Berlebihan dalam berkomentar

4. Salah Orientasi Model & Tren
Adakah dari kita yang ikut-ikutan tren pada youtuber atau selebgram? Tidak sedikit pelajar zaman sekarang menjadikan youtuber atau selebgram ternama sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dan tidak menjadi masalah selagi yang diikuti tidak menyimpang, sesuai dengan usia dan diterima oleh masyarakat.

Bagaimana berpikir kritis agar tidak salah idola dan tidak terkena hoax?
a. Selektif dalam memfollow/subscribe orang di internet, karena orang yang kita follow/subscribe sangat mungkin untuk mempengaruhi hidup kita di masa yang akan datang
b. Menguatkan konsep diri kita sesuai dengan yang kita yakini, sesuai dengan kultur keluarga, kultur masyarakat
c. Cek orang terdekat kita. Konsep dirinya sudah bagus atau belum

5. Kecanduan pornografi
Pornografi yang menyebabkan kecanduan karena adanya:
a. Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi
b. Bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu dalam seks

Sumber-sumber pornografi zaman sekarang
Online: Instagram, youtube, twitter, facebook, chatting, games, dan lain-lain
Offline: truk, billboard, mall

Anda sudah ada di tahapan mana? Unelihat
a. Penasaran dan kecanduan
b. Meningkatnya level porno
c. Meniru apa yang dilihat

Tanpa kita sadari, kecanduan pornografi menyebabkan terjadinya kerusakan otak.
Pre Frontal Korteks salah satu bagian terpenting karena hanya dimiliki oleh manusia sehingga mampu memiliki etika dibandingkan dengan binatang. Pre Frontal Korteks yang berfungsi untuk memilih, mengatur, mengingat, mengontrol, merencanakan, mengendalikan, merencanakan masa depan, menjadi semakin mengecil dan lama-lama menjadi tidak aktif jika sudah rusak dikarenakan candu pornografi.

Bagaimana melatih diri untuk menjaga pandangan dari konten pornografi?
a. Muncul rasa penasaran lihat porno, tapi sadar bahayanya lebih mengerikan
b. Pahamkan dalam diri bahwa mengalihkan pandangan selalu jadi keputusan terbaik
c. Ada yang selalu mengawasi kita
Latihan skill menjaga pandangan setiap waktu (close, scroll, alihkan pandangan, merem, hilangkan penasaran)

6. Kecanduan Games
3 hal yang berbeda
Nge-game: rekreasi
E-sports: profesi
Kecanduan: perlu diobati

(+) Sisi positif games
Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
Mengurangi stres/bosan
Sarana hiburan atau belajar yang menyenangkan

(-) Sisi negatif games
Membuat lupa waktu
Muncul perilaku negatif
Tidak bisa menentukan prioritas
Jadi ngambekan/marah-marah
Tidak suka ngobrol sama orang
Tidak peka
Susah tidur
Mata perih
Kecanduan

Di tahun 2018 WHO meresmikan kecanduan game = gangguan mental

Ciri-ciri kecanduan games
a. Tidak dapat mengendalikan kebiasaan bermain game
susah mengatur waktu dan sering lupa waktu
b. Game sudah menjadi prioritas di atas segalanya
mereka cenderung memprioritaskan game di atas kegiatan lain yang seharusnya diutamakan. Bahkan untuk ibadah, tugas wajib sehari-hari, makan dan tidur sering dilupakan
c. Terus bermain meski ada konsekuensi negatif yang sudah jelas terlihat atau dia rasakan
d. Sekalipun sadar kalau dampak negatif bermain game sudah mulai terasa dan bahkan orang lain melihat dan sering mengingatkan, mereka tetap akan melanjutkan permainan

Bagaimana main game menjadi tetap aman?
a. Game pada dasarnya harus sesuai usia
b. Bagaimana membatasi waktu, dan seberapa lama durasi main yang aman
c. Hindari emosi dan pikiran terlalu dalam ketika bermain game. Ketika sudah terlampau dalam, lebih baik berhenti
d. Buat target waktu main game dan sepakati
d. Seimbangkan waktu bermain di dunia gadget dengan di kehidupan nyata
e. Carilah alternatif aktivitas lain yang sama atau lebih menyenangkan & menantang selain main gadget

Sumber:
kakatu.id internetBAIK, yayasan kita & buah hati, doktersehat.com

*) Catatan 

  • Penulis adalah Shira Sahira Anggota Bidang Ipmawati PP IPM 2018-2020, Bendahara Umum PW IPM Kepri 2017-2019
  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis
Taruna Melati I: Ajang Kader IPM Kota Metro Mengenal Gerakan Kritis Kreatif
Menyongsong Tanwir, IPM Kalbar Laksanakan Agenda Konsolidasi
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

2 Komentar. Leave new

  • Terima kasih, kak. Oknum yang membully bisa jadi pernah dibully juga. Ini mengakibatkan secara psikologis jika ia menemukan orang yang lebih rendah kekuatannya ia akan melakukan hal yang sama karena merasa ia lebih kuat atau lebih berkuasa.

    Balas
  • Terima kasih, kak. Oknum yang membully bisa jadi pernah dibully juga. Ini mengakibatkan secara psikologis jika ia menemukan orang yang lebih rendah kekuatannya ia akan melakukan hal yang sama karena merasa ia lebih kuat atau lebih berkuasa.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.