Haedar Nashir Sampaikan Narasi Islam Berkemajuan dan Kebangsaan Universal dalam Pembukaan PKPTMU 2023

Haedar Nashir Sampaikan Narasi Islam Berkemajuan dan Kebangsaan Universal dalam Pembukaan PKPTMU 2023

BeritaPKTMUPP IPM
785 views
Tidak ada komentar

[adinserter block=”1″]

Haedar Nashir Sampaikan Narasi Islam Berkemajuan dan Kebangsaan Universal dalam Pembukaan PKPTMU 2023

BeritaPKTMUPP IPM
785 views

IPM.OR.ID., YOGYAKARTA – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memaparkan amanatnya dalam Pembukaan Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama 2023 pada Selasa (09/05/2023). Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor PP Muhammadiyah Cik Di Tiro Yogyakarta itu diikuti sekitar 36 peserta PKPTMU 2023.

Dengan perspektif kemuhammadiyahan berkemajuan, Haedar  mengapresiasi penyelenggaraan PKPTMU 2023 sebagai acara peningkatan kualitas sumber daya manusia di IPM. Sembari mengenang masa-masa saat ber-IPM di bangku SMA, Haedar berpesan agar kader IPM tertib ibadah dan tertib organisasi. “Jangan sampai ikut IPM tetapi pendidikan jadi tertinggal karena kader IPM perlu menuntut ilmu setinggi-tinggal dan perlu memaksimalkannya,” pesan Haedar.

Selagi mendalami Muhammadiyah, Haedar melihat adanya kesenjangan soal Muhammadiyah. Haedar berpikir jika Muhammadiyah semakin lama semakin terlihat dogmatif, organisatoris, dan ideologis. “Lalu, saya berakhir pada kesimpulan bahwa ada yang terlewatkan di Muhammadiyah, yakni wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan,” ujar Haedar.

Haedar melanjutkan jika risalah Islam berkemajuan itu merupakan rumusan yang menguatkan kembali pikiran dan gerakan yang dilahirkan Muhammadiyah sejak awal.  “Berbicar mengenai Islam berkemajuan tidak terlepas dari konsep pembaharuan yang bersifat pemurnian, dan ideologi amar ma’ruf nahi munkar,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Haedar menjelaskan jika pengelolaan organisasi dalam Muhammadiyah menjadi sangat rigit. “Keislaman dan kebangsaan melahirkan politik Islam, yakni aliran islam di mana terlalu konservatif. Soal kepemimpinan, pembaharuan ada yang secara harfiah dan burhaniah,” jelas Haedar.

Haedar menyampaikan jika konsep pembaharuan muncul saat zaman wahabiah yang terkenal dengan pemurnian akidahnya. “Saat itu, di tangan Muhammad Abduh menjadi gerakan yang menghancurkan kuburan-kuburan karena banyak ajaran sesat yang mengangungkan kuburan,” terang Haedar.

Penghancuran kuburan yang terjadi saat itu dijelaskan Haedar karena dimensi rasa irfani tidak ada. “Jadi, tidak heran jika di Muhammadiyah menggunakan pendekatan wasabbiyah yang mengedukasi umat jika boleh mendatangi kuburan tapi tidak perlu diagungkan sehingga muncul spekulasi bahwa Muhammadiyah tidak suka berziarah,” lanjut Haedar lagi.

Padahal pemahaman tajdid, Haedar menjelaskan jika KHA Dahlan menggunakan ketiganya. “Dalam pemahaman Al-Quran, KH Ahmad Dahlan melalui penafsiran QS. Al-Maun membentuk lembaga pendidikan, kesahatan untuk kemakmuran umat Islam,” kata Haedar.

Dalam mempopulerkan gerakan Islam berkemajuan, Haedar menyampaikan untuk mempopulerkannya cukup sulit karena saat itu juga muncul wacana Islam Nusantara yang dianggap lebih keren karena lebih nasionalis. “Perspektif Islam pencerahan dan Islam berkemajuan pada akhirnya bisa menyatu di masyarakat Muhammadiyah karena menjadikan gerakan Islam sebagai identitas utama,” ungkap Haedar.

Namun, menurut QS. Ali Imron ayat 104 berbicara tentang umat Islam yang bergerak amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan dan QS. Ali Imron ayat 110 pas dengan tujuan Muhammadiyah, yakni tentang humanisasi liberalisasi. “Dalam praktiknya, amar ma’ruf nahi munkar. Di mana banyak yang melakukan muamalah ukhrawiyah, tetapi muammalah duniawiyah-nya banyak yang tertinggal,” jelas Haedar.

Haedar juga menyampaikan terkait sistem dakwah dalam Muhammadiyah. Haedar menyampaikan jika figur dakwah Muhammadiyah lemah mengingat sebagian pemimpinannya tidak mengahyati 10 sifat pemimpin Muhammadiyah. Begitu pula dengan dakwah komunitas. “Perspektif tadi harus diubah. Bahwa kecanggungan kita ketika berusrusan dengan relasi agama lain. Kalau yang berbeda urusan ijtihadi bukan menjadi aqidah qa’thi sehingga tidak apa-apa. Yang tidak boleh dalam Islam itu sinkritisme, tapi soal perayaan itu termasuk hablum minnannas,” tegas Haedar.

Haedar juga berpesan terkait kebangsaan universal, kader IPM harus menuntut ilmu setinggi-tingginya. Hal itu diperlukan agar kader IPM bisa bersaing dan bertahan di ranah global di mana permasalahan yang muncul akan semakin kompleks. “Banyaknya beban dan masalah di ranah internasional, seperti menghadapi islamophobia dan perlu mengembangkan Muhammadiyah di ranah global, maka kader IPM harus berpendidikan. Buktikan kalau kader IPM itu bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berwawasan luas karena kalianlah yang akan menjadi penerus kami yang memegang peradaban,” pungkas Haedar. (inas)

Tags: ,
Pembukaan PKPTMU 2023, Nashir: PKPTMU untuk Menghasilkan Manusia Purna
Peserta PKPTMU Institutional Visit ke UMS, Dahlan Rais: Inti Kepemimpinan adalah Keteladanan
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.