BIAR AKU-CUKUP AKU “SI AREMANIA CILIK”

BIAR AKU-CUKUP AKU “SI AREMANIA CILIK”

Opini
1K views
Tidak ada komentar
BIAR AKU-CUKUP AKU "SI AREMANIA CILIK"

BIAR AKU-CUKUP AKU “SI AREMANIA CILIK”

Opini
1K views
BIAR AKU-CUKUP AKU "SI AREMANIA CILIK"
BIAR AKU-CUKUP AKU "SI AREMANIA CILIK"
Oleh: Mukhtara Rama Affandi, Kabid Advokasi dan Kebijakan Publik PP IPM
Namaku Aremania Cilik
Putra-putri Malang keturunan Arema sejak dini
Namaku Aremania Cilik
Panggil aku Singo sekarang, panggil aku Edan besar nanti
Namaku Aremania Cilik
Salam satu jiwa sloganku yang selalu terpatri
Namaku Aremania Cilik
Yang bangga memakai baju dengan lambang singa di dada
Yang bangga mengalungkan syal arema meski terlihat kebesaran dilirik mata
Yang bangga berteriak dukungan dari sejak di jalan sampai di dalam Kanjuruhan
Namaku Aremania Cilik
Yang datang dibonceng motoran atau ikut rombongan naik angkutan
Yang kadang dituntun masuk stadion oleh ibu, bapak, atau kakak
Yang mungkin bawa uang pas-pasan ke stadion hasil menyisihkan uang jajan
Sekarang, tetaplah panggil aku Aremania Cilik
Yang datang bersamaan dengan ribuan supporter, tentu berharap kemenangan
Yang tetap ikhlas dan militan pasca pertandingan ketika lihat tim menelan kekalahan
Yang sabar menunggu antrian kepulangan meski dihantui ketakutan
Jangan lupa, panggil aku Aremania Cilik
Yang lari berhimpit panik menghindari gas air mata
Pak Polisi tahann. Di sini ada aku. Aremania Cilik
Yang tunggang langgang keluar stadion agar bisa kembali ke rumah
Yang bingung, hilang arah di tengah lautan orang dewasa yang marah
Tahann.. Aku Aremania Cilik
Yang berteriak jangan pukul bapakku, jangan kejar kakakku, berikan jalan untuk ibuku
Aku Aremania Cilik pamit
Meninggalkan pelajaran di tengah prestasi yang mulai menunjukkan harapan
Menyisakan sejarah agar tak boleh ada lagi darah
Aku Aremania Cilik pamit
Janganlah saling menyalahkan, toh aku sudah mati tanpa sempat berpesan
Janganlah juga menyesali kalau dampaknya tak berhenti disini, toh aku sudah mati dengan cara yang tak kuhendaki
Aku Aremania Cilik pamit
Ibu, Bapak, Kakak, dan Kawan Kawan sampai jumpa kembali. Kabarkan jika Kanjuruhan sudah aman-nyaman.
Ibu, Bapak, Kakak, dan Kawan Kawan yang aku tinggalkan aku berpesan sepakbola akan tetap jadi idaman tetapi kebutaan akan selalu memakan korban.
Terakhir…
Dalam Salam Satu Jiwa, ada Aku Si Korban Jiwa
Kanjuruhan Berduka dan Sepak Bola Indonesia dalam Kacamata PP IPM
Memeriahkan Hari Batik Nasional ala IPM Surabaya
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.