PP IPM Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Jadi Majalah Kebanggan Kader IPM?

PP IPM Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Jadi Majalah Kebanggan Kader IPM?

Berita
1K views
Tidak ada komentar
Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Menjadi Majalah Kebanggan Kader IPM?

PP IPM Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Jadi Majalah Kebanggan Kader IPM?

Berita
1K views
Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Menjadi Majalah Kebanggan Kader IPM?
Adakan DIALOGUE Spesial Majalah Kuntum, Masihkah Kuntum Menjadi Majalah Kebanggan Kader IPM?

IPM.OR.ID., YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) yang berkolaborasi dengan Lembaga Pustaka PP IPM mengadakan DIALOGUE spesial Majalah Kuntum, Majalah Kebanggaan Kader IPM pada Jumat (04/02/2022). Kegiatan tersebut menghadirkan Fajar Junaedi, Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Hammam Izzudin, Pemimpin Redaksi Majalah Kuntum Periode 2019-2021.  Adapun diskusi tersebut diadakan secara luring di Netes Kafe dan disiarkan langsung melalui Instagram.

Hammam membuka diskusi dengan menjelaskan bahwa ada tiga kategori yang mengenal Majalah Kuntum di generasi sekarang. “Pertama, mereka yang tidak kenal dan tidak pernah baca kuntum. Kedua, mereka yang tahu Majalah Kuntum dan tidak pernah membacanya. Ketiga, mereka yang tahu Majalah Kuntum dan membaca majalahnya,” kata Hammam.

Pria yang telah merampungkan jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Kuntum tahun 2021 lalu ini juga menjelaskan tentang sejarah berdirinya Majalah Kuntum. Ia menjelaskan banyak tokoh berpengaruh yang di masa lalunya pernah menulis cerpen di Majalah Kuntum. “Kuntum terbit pertama kali pada tahun 1970-an yang diinisiasi oleh kader IPM Kota Jogja. Saat itu PP IPM belum turut campur tangan dalam proses terbitnya Majalah Kuntum, hingga di tahun 1988 Majalah Kuntum merasa perlu mendapat legalisasi dan akhirnya bekerja di bawah PP IPM yang kemudian berlangsung hingga sekarang,” jelas Hammam.

Hammam menjelaskan pula tentang pentingnya membuat komunitas dalam suatu media. Majalah Kuntum dulunya memiliki komunitas Sobat Kuntum yang membantu para pelajar untuk mempelajari dinamika dunia jurnalisme. “Pengadaan komunitas ini tentunya memberikan manfaat bagi kontributor, seperti mendapat relasi, pengalaman, dan pengetahuan baru yang didapat ketika bergabung komunitas tersebut,” jelas Hammam.

Melengkapi pendapat Hammam, Junaidi turut mendukung adanya komunitas kontributor, terlebih di kalangan pelajar. “Dengan keikutsertaan pelajar Muhammadiyah dalam proses menulis di Kuntum sebagai kontributor tentu sekolah bisa mempromosikan nama sekolah sehingga lebih bisa dikenal pembaca Majalah Kuntum secara luas,” tutur Jun.

Jun juga menjelaskan terkait menurunnya popularitas Majalah Kuntum bisa diinisiasi dengan mengadakan kolaborasi dengan pihak kampus atau sekolah-sekolah Muhammadiyah. “Tim produksi Majalah Kuntum bisa berkolaborasi dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah ketika masa orientasi sekolah diminta untuk membuat review Majalah Kuntum yang telah disediakan panitia,” kata pria yang kerap disapa Jun.

Jun menjelaskan bahwa sebaiknya majalah cetak seperti Majalh Kuntum membuat berita yang mempunyai nilai sepuluh. “Nilai sepuluh maksudnya adalah, berita yang belum pernah diberitakan di media massa. Berita yang mempunyai nilai otentik sehingga orang-orang tertarik untuk membacanya,” tutup Jun.*(inas)

Tags: , , , , ,
Gebyar IPM MUH1BA, Kembangkan Potensi Pelajar
Perkaderan untuk Semua!
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.