Membumikan Surga Melalui Muktamar Teduh

Membumikan Surga Melalui Muktamar Teduh

Beritablog
903 views
Tidak ada komentar

Membumikan Surga Melalui Muktamar Teduh

Beritablog
903 views
Membumikan Surga Melalui Muktamar Teduh
TEDUH. Suasana teduh tampak pada sidang Muktamar Muhammadiyah, di Gedung Bundar Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Rabu pagi, 5 Agustus 2015.  Suasana yang teduh tentu menggembirakan semua orang. Proses pemilihan ketua umum yang tenang serta jauh dari kericuhan jelas menjadi modal dasar bagi persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 untuk meraih kemajuan. (Foto: Akbar Ashari)

———-

Membumikan Surga Melalui Muktamar Teduh
Oleh: Muhammad Subarkah

Waktu belum beranjak terlalu malam, sekitar pukul 22.05 WIT. Sekelompok orang di ruangan tengah Gedung Iqra Universitas Islam Muhamamdiyah (Unismuh) Makassar tampak merubung layar lebar yang menyiarkan penghitungan perolehan ke-39 orang kandidat calon ketua umum Muhammadiyah periode 2015-2020. Saat itu fluktuasi suara sudah normal. Beberapa kandidat yang akan masuk ke dalam posisi 13 besar suara terbanyak telah dapat dipastikan.

”Luar biasa. Tak ada kegaduhan, tak ada kericuhan. Benar bila peneliti asing dari Jepang, Mitsuo Namakura, mengatakan, ketika masuk ke arena Muktamar Muhammadiyah suasana terasa seakan di surga,” kata Andar Nubowo, pengamat politik dari Indostrategi yang pada malam pemilihan (Kamis, 5/8) nonton bareng siaran langsung penghitungan suara berrsama muktamirin lainnya.

Andar takjub karena selama penghitungan tak terdengar teriakan “hu” atau tepuk tangan ketika ada kandidat yang mendapat perolehan suara.
”Semua menonton dengan gembira. Nonton ramai-ramai dengan tertib,” lanjut Andar.
Dan memang pada saat yang sama di luar gedung tempat melakukan konggres, para muktamirin sibuk memelototi masing-masing ponsel Androidnya untuk mengikuti tayangan langsung penghitungan suara. Semua tampak semringah ketika tahu siapa siapa saja nama-nama yang masuk dalam posisi 13 yang nantinya akan memilih ketua umum PP Muhammadyah.

”Tampaknya untuk pertama kalinya dalam 100 tahun Muhammadiyah akan dipimpin oleh orang Sunda. Ini benar kejutan dan melanjutkan dari ‘tradisi’ bahwa persyarikatan ini tak selalu dipimpin oleh orang Yogyakarta atau Jakarta, tapi juga orang luar etnik Jawa atau Minangkabau. Bila kemarin yang dipilih orang Sumbawa, sekarang orang Sunda itu. Organisasi ini benar-benar sudah menembus batas,” kata Faozan Amar, dosen Uhamka Jakarta.

Bila ada yang mengatakan terjadi kejutan dalam perolehan suara putaran terakhir itu memang ada benarnya. Bila sebelumnya, yakni dalam putaran 39 besar, Anwar Abas memuncaki perolehan suara, kini malah terlempar keenam besar, bertukar posisi dengan Haedar Nashir yang sebelumnya berada pada peringat ketiga. Wajah baru juga muncul, yakni Busyro Muqoddas (mantan Ketua KPK), Suyatno (Rektor Uhamka), Muhajir Effendy (Rektor UMM), Hajriyanto Y Tohari (mantan Wakil Ketua MPR).

”Hasi pemilihan sangat susah diprediksi. Perolehan suara di setiap jenjang bisa naik dan turun. Ini karena masing-masing pemilih yang jumlahnya mencapai 2.568 orang itu berhak mengajukan tiga nama. Jadi siapa yang terpilih akhirnya adalah mereka yang benar-benar ingin berkhidmat. Mereka yang ambisius tak akan pernah bisa terpilih. Inilah tradisinya,” kata Andar Nubowo kembali.
****

Tak hanya sikap muktamirin yang semuanya menyambut dengan ekspresi wajah bahagia atas hasil akhir perolehan suara, mereka yang masuk dalam posisi 13 besar suara itu juga menyambutnya dengan sikap biasa. Pemuncak perolehan suara Haedar Nashir malah sibuk mengikuti acara muktamar yang sedang memanggungkan para tokoh utama Muahammadiyah dalam dialog kebangsaan. Selama acara yang disisi dengan pidato Amien Rais, Syafii Maarif, Abdul Malik Fajar, dan Din Syamsuddin, Haedar tak sekali pun beranjak dari tempat duduknya atau membuka ponsel untuk mengecek proses penghitungan suara yang saat itu tengah berlangsung.

”Ah, biar sajalah. Tak ada soal. Bisa masuk 13 besar saja sudah luar biasa,” kata Haedar ketika ditemui sebelum proses penghitungan suara dimulai.
Tak ada ekspresi apa-apa di wajahnya ketika diberi tahu bahwa proses penghitungan berlangsung bersamaan dengan acara Dialog Kebangsaan. Tekanan nada bicaranya pun datar saja.
Begitu juga dengan Ahmad Dahlan Rais. Meski berhasil menduduki tiga besar dalam penghitungan akhir, sikapnya juga tak ada yang berubah. Malah dia baru mengecek melalui ponsel mengenai perolehan suara setelah mengikuti acara dialog kebangsaan. Dengan berdiri di depan tangga dengan dirubung peserta muktamirin lainnya, Dahlan baru mengetahui bila dia berada di peringkat tiga besar di bawah Yunahar Ilyas.

Lebih unik lagi ekpresi yang diperlihatakan “tokoh manajer” Muhammadiyah, Anwar Abbas. Ketika tahu bahwa dia tak lagi memuncaki perolehan suara seperti pada pata putaran sebelumnya, Anwar malah tertawa gembira. Dia malah sibuk berbincang akrab dengan para kader Muhammadiyah yang selama ini telah mengenalnya.

”Alhamdulillah, masih berada di peringkat keenam itu luar biasa. Kemarin ketika mendapat suara terbanyak itu karena Allah dan sekarang berada diperingkat keenam juga karena Allah. Semua telah tertulis di Lauful Mahfudz. Terus terang kaget juga ketika kemarin mendapat suara terbanyak. Rasanya bagaimana, begitu?,” kata Anwar.

Suasana yang teduh tentu menggembirakan semua orang. Proses pemilihan ketua umum yang tenang serta jauh dari kericuhan jelas menjadi modal dasar bagi persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 untuk meraih kemajuan. Muhammadiyah kini mampu membuktikan diri sebagai ormas Islam yang besar, bukan hanya dengan modal massa puluhan juta orang dan modal “aset tunai’ mencapai Rp 30 triliun yang kini tersebar di 127 lembaga keuangan.
Data PP Muhammadiyah menyatakan, sampai tahun 2015, persyarikatan ini mempunyai 192 perguruan tinggi, 5.015 sekolah dan madrasah tingkat menengah, 16.346 TK ABA/PAUD, 122 pondok pesantren, 557 rumah sakit besar, sedang, dan kecil, 318 panti asuhan, 82 panti berkebutuhan khusus, 54 pantai jompo, 437 BMT, 762 BPRS, 25 penerbitan, 21.000 masjid, ribuan kelompok binaan ekonomi ‘Aisyiyah (Bueka), ribuan komunitas binaan program binaan pemberdayaan Muhammadiyah. Tanah wakaf yang dikelola kini luasnya mencapai lebih dari 2 juta hektare.

”Dengan aset begitu besar, Muhammadiyah tidak bisa ditekan oleh berbagai kepentingan, misalnya oleh perbankan. Dia menentukan besar-kecilnya bunga pinjaman. Jadi, sangat mandiri. Dan ingat, muktamirin ini tidak meminta bantuan pemerintah melalui APBN,” kata Edi Kuscahyanto.
Di masa depan, kekokohan tersebut makin membesar bila melihat tetap tinggi sikap kedermawan warga Muhammadiyah. Fakta ini menepis kekhawatiran bahwa semakin lama sikap kegotongroyongan mulai menghilang dari sanubari bangsa ini. Bahkan, sebagian besar warga Muhammadiyah merasa sikap kedermawanan itu merupakan ekspresi riil dari penghayatan dan pelaksanaan pesan keagamaan yang selama ini dihayatinya.

”Melalui sebuah survei yang kami lakukan kepada 400 orang warga yang memegang kartu anggota Muhammadiyah yang berada di 11 kota besar, terdapat fakta bahwa selama ini mereka tetap suka berderma. Setiap bulan mereka mengularkan derma rata-rata bernilai Rp 300 ribu per bulan,” kata Ketua Tim Peneliti Direktur LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ketika memaparkah hasil risetnya.

Hilmar mengatakan, survei yang dilakukan dua bulan silam itu menunjukkan, sebagian besar warga Muhammadiyah yang di survei itu merupakan kelompok yang masuk dalam kategori kelas menengah Indonesia. Penghasilan mereka antara Rp 6 Juta hingga Rp 12 juta per bulan. ”Setiap bulan mereka berderma (mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah) sekitar Rp 300 ribu per bulan. Dan mereka menyalurkan uangnya itu ke beberapa lembaga zakat dan juga kepada per orangan,” ujarnya.
”Mereka percaya, dengan berderma tidak akan mengurangi hartanya. Jadi, mereka tergerak hatinya untuk menolong orang lain atas dorongan menjalankan panggilan keagamaan, bukan karena panggilan atas sikap ideologi sosialnya,” ujarnya.

Mengenai pilihan cara mengeluarkan dermanya, dari survei itu terlihat 81 persen menginginkan diberikan secara tunai melalui tatap muka secara langsung. Sedangkan, mereka yang melakukan pemberian yang diberikan secara transfer porsinya kecil saja, mencapai 5,7 persen. Sedangkan, porsi pemberian dana melalui “jemput bola” hanya dilakukan warga dengan porsi yang semakin kecil, yakni sekitar 3 persen saja.
******

Mengenai tantangan Muhammadiyah ke depan, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar persyarikatan ini secara serius melakukan gerakan pemberdayaan ekonomi umat Islam. Usaha ini dilakukan dengan mengembangkan sebuah lembaha usaha.

”Kalau dalam politik Islam, misalnya menjadi anggota DPR maupun kepala daerah, minat umat Islam tak kekurangan. Begitu minat menjadi aparat birokrasi dan tentara, minat umat Islam luar biasa tinggi. Tapi, di bidang usaha dan ekonomi tak begitu banyak. Inilah tantangannya ke depan. Bagaimana Muhammadiyah bisa memajukan ekonomi umat Islam,” kata Jusuf Kalla.

Menurut dia, kenyataan bahwa umat Islam masih belum mempunyai kekuatan ekonomi yang mencukupi tampak begitu jelas. Ini bisa dicontohkan bila ada 100 orang miskin maka 90 orang di antaranya orang Islam. Begitu juga sebaliknya, bila ada 100 orang kaya, maka hanya 10 orang saja yang berasal dari kalangan umat Islam.

”Tantangan terberat yang dihadapi bangsa justru banyak akibat gempuran ekonomi. Makanya saya mendukung Muhammadiyah untuk berperan pada peningkatan ekonomi bangsa,” tegas wakil presiden.

Maka itulah tantangan yang harus bisa dijawab memasuki kurun usia 200 tahun. Modalnya sudah ada. Salah satunya adalah melalui pelaksanaan muktamar yang teduh. Apalagi ada pesan yang jelas dari filsuf besar Muhammad Iqbal ketika menyoal tugas seorang Muslim: umat Islam seharusnya tak hanya mampu mewujudkan surga di akhirat, tapi juga harus bisa mewujudkan surga di dunia!
—————-

@copyright Harian Republika (http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/15/08/11/nswqge1-membumikan-surga-melalui-muktamar-teduh)

Begini Cara Positif MOS di Sekolah Muhammadiyah, Bagaimana di Tempat Anda?
Muhammadiyah Catat Sejarah Baru
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.