IPM.OR.ID., Jakarta – Bidang Pengarusutamaan Gender (PUG) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) menggelar kegiatan Meet Our New Voice secara daring melalui Zoom pada Rabu (22/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Voice yang berfokus pada pencegahan sunat perempuan dan pernikahan anak melalui edukasi dan advokasi pelajar.
Program ini juga mendorong upaya mitigasi praktik Female Genital Mutilation (FGM) atau mutilasi genital perempuan dan child marriage (CM) atau pernikahan anak di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan orientasi tersebut diselenggarakan untuk memberikan pembekalan kepada tim pelaksana Voice mengenai tugas, tanggung jawab, serta arah gerakan yang akan dijalankan.
Melalui pembekalan ini, para peserta diharapkan mampu menjalankan perannya dalam menyebarluaskan edukasi dan meningkatkan kesadaran pelajar terhadap isu FGM dan CM di berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal PP IPM Tsabita Ikrima Alarify, menyampaikan apresiasinya kepada Bidang PUG PP IPM atas konsistensinya dalam mengangkat isu FGM dan CM sebagai bagian dari agenda advokasi pelajar.
“PP IPM mengapresiasi langkah yang ditempuh oleh Bidang PUG melalui program Voice. Ini menjadi ikhtiar kolektif kita di ranah pelajar untuk menyuarakan salah satu isu global yang melanggar hak-hak dasar perempuan dan anak,” tutur Bita.
Lebih lanjut, Bita menyoroti masih tingginya angka praktik sunat perempuan dan pernikahan anak di Indonesia.
Menurut Bita, pelajar memiliki peran penting dalam menghadirkan edukasi dan upaya pencegahan terhadap berbagai praktik yang dapat mengancam hak-hak anak. Praktik FGM dan CM ini memiliki dampak langsung pada anak perempuan, terutama kelompok rentan minim akses pendidikan dan perlindungan.
“Advokasi isu ini menjadi bagian dari kampanye ‘Algoritma Pelajar Berdampak’ agar gerakan kita mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, bukan sekadar berputar di kalangan yang telah memiliki banyak akses dan kesempatan,” tegas Bita.
Mempertimbangkan maraknya isu FGM dan CM di Indonesia, Bita menegaskan bahwa IPM memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keberlanjutan Voice.
Pada kesempatan yang sama, Project Manager Voice Fajry Annur menegaskan komitmen program Voice untuk membangun ruang kolaborasi bagi pelajar dalam menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi anak dan perempuan.
“Voice diharapkan menjadi ruang inkubasi dan sinergi bagi para pelajar agar berani menyuarakan berbagai bentuk ketidakadilan akibat FGM dan CM,” ujar Fajry.
Fajry juga menambahkan, bahwa seluruh gerakan ini ini akan tetap mengedepankan nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai fondasi utamanya
Melalui orientasi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai arah program, pembagian peran, serta strategi pelaksanaan yang akan dijalankan dalam mendukung keberlanjutan gerakan Voice di lingkungan pelajar Muhammadiyah. *(Fran/Nabila)


































