Disaat Rebahan,  Masihkah Mencerdaskan?

Disaat Rebahan,  Masihkah Mencerdaskan?

Disaat Rebahan,  Masihkah Mencerdaskan?

Daerah Istimewa YogyakartaOpiniOpini Pelajar
1K views

Kata ‘mencerdaskan‘ rupanya sudah menjadi santapan sehari-hari bagi kaum terpelajar, terlebih bagi sekumpulan kalangan muda Muhammadiyah. Mencerdaskan erat kaitannya dengan Pendidikan, Pengetahuan, dan kepintaran. ‘Mencerdaskan’ pula juga tidak bisa terpisahkan dari nilai moral dan etika suatu pribadi maupun masyarakat. Entah itu masyarakat majemuk ataupun sebaliknya. Suatu Bangsa bisa dikatakan tidak profesional seandainya memiliki kecerdasan yang tinggi namun nilai etikanya masih rendah. Sebagai contoh, bangsa yang memiliki banyak jumlah instansi pendidikan, alumnus S3, bahkan berhamburannya para cendikiawan.

Namun tingkat korupsi dan kolusinya tidak sedikit bisa dikatakan penilaian dan kepercayaan bangsa lain terhadap bangsa tersebut – dalam aspek apapun – boleh jadi bernilai hampa. Mencerdaskan adalah suatu usaha yang dilakukan untuk kepentingan kebaikan, yang bersifat komprehensif. Baik itu dari segi pendidikan, kebudayaan, perekonomian bahkan yang terpenting adalah religiusitas  ( keber-agama-an ).

Suatu kenyataan langsung yang dilihat Kiai Dahlan – Pendiri Muhammadiyah – adalah melihat keterpurukan bangsa yang disebabkan bobroknya keilmuan, sehingga dengan mudah bangsa penjajah menguasai sektor vital dan penting, seperti roda pemerintahan, ekonomi, sosial-budaya hingga kemanusiaan. Hal itulah yang menjadi bright mind / ide yang terang untuk bisa kembali mengantarkan manusia kepada jatidirinya, tidak gampang dikuasai orang lain. Itulah usaha mencerdaskan dikala era pra-Kemerdekaan.

Tidak mudah memang usaha mencerdaskan dilakukan, meskipun sejatinya berupaya untuk masa depan yang sukses untuk mereka. Ajakan Kiai Dahlan – dilain waktu – adalah yang berdampak pada perobohan langgar Kidoel Kiai Dahlan di Kauman (Daerah Istimewa Yogyakarta), ia dinilai sesat dan melenceng dari ajaran agama. Meskipun pada akhirnya ada sebagian keluarga beliau yang membangunkan kembali langgar tersebut. Namun secara universal sikap masyarakat saat itu ialah menolak. Disaaat yang lain pula saat rerata masyarakat kala itu sudah menerima dan memahami ajakan kebaikan Kiai Dahlan.

Namun disaat beliau mendirikan sarana pendidikan dengan memakai meja-kursi, ia dianggap plagiat dan meniru produk umat non-islam. Hal itu dianggap sebagai produk barat yang dikelola Belanda. Tidak lesehan seperti mayoritas di zaman tersebut. Namun sekali lagi, pada akhirnya konsep memakai meja-kursi itu sudah menjadi mayoritas kala ini. Usaha mencerdaskan dikala bangsa masih dihinggapi problematika dan dinamika penjajahan tidaklah gampang, membutuhkan mentalitas pemenang, harus dihadapi dengan serius tapi tetap dengan kepala dingin, sprit amal Li Allahi Ta’ala harus dijadikan hiasan jasmani terlebih ruhani.

Perlu menjadi renungan kita bersama, terlebih bagi para pemrakarsa pendidikan ataupun yang ingin bangsa ini kembali unggul. Angka melek huruf di Indonesia pada tahun 2017 dikutip dari Detik.com yakni 97 persen penduduk bebas buta aksara. Ini seharusnya bisa menjadi pemacu dan pemicu agar semangat mencerdaskan terus digelorakan. Jumlah sekolah dari jenjang SD sampai Sekolah Lanjutan Atas (SLTA), termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia mencapai 307.655 sekolah pada tahun ajaran 2017/2018. Jumlah tersebut, berdasarkan data pokok pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri atas 169.378 sekolah negeri dan 138.277 sekolah swasta .Jumlah sekolah tingkat SD merupakan yang paling banyak, yakni mencapai 148.244 sekolah Kemudian untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 38.960. Adapun untuk tingkat SLTA  sebanyak 27.205 sekolah, terdiri atas SMA 13.495 dan SMK 13.710. (Dok katadata.com)

Pandemi yang menghantam negeri ini, yang sudah sekitar 3 bulan berjalan menapaki, yang menyebabkan berbagai gedung dan instansi termasuk pendidikan closed dan tidak melayani, hingga kebijakan yang menimbulkan beragam spekulasi. Sudah menghiasi. Tak ketinggalan media sosial dihiasi berbagai tagar mulai dari #DirumahAja, hingga #IndonesiaTerserah. Tak luput aneka kegiatan dari yang produktif hingga RebahanAja sudah dirasa dan dialami-mungkin.

Kebijakan stay at home yang menimbulkan dampak sosial-ekonomi hingga perilaku rebahanAja perlu disoroti. Seharusnya apapun kegiatan itu selama menghasilkan banyak waktu haruslah digunakan sebaik mungkin. Kita tak boleh menghianati amanah konstitusi – amanah besar para founding father’s negeri – dengan sikap menyia-nyiakan waktu.

Tulisan diatas terkait usaha mencerdaskan bangsa haruslah dipelopori. Peningkatan visi dan kualitas sumber Daya Manusia pasca-pandemi haruslah dijadikan bahasan dan introspeksi. Apakah waktu Luang yang diberikan Tuhan Pengatur Segalanya telah kita maksimalkan? Apakah kegiatan selama hayat dikandung badan masih efektif dan efisien? Pandemi menjadikan kita bebas dengan rutinitas pendidikan formal, Biskah kita bijak menghadapi hal tersebut?

Era modern dengan segala kencanggihan yang mungkin tak terbayangkan dahulu menjadi solusi alternatif. Berbagai aplikasi gratis telah hadir dan tersedia. Tinggal mau tidaknya kita memanfaatkan. Refleksi ilmu yang menghasilkan amal harus dilakukan kapanpun dan dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Tanpa merugikan pihak manapun. Inilah yang sebetulnya hadir memberi manfaat dikala pandemi dan dikala kecanggihan IPTEK. Haruslah sebagai generasi terpelajar mengikuti arus perkembangan teknologi, dakwah dan mencerdaskan via digital. Agar tetap konsisten terhadap peran mencerdaskan. Karena nantinya pelajar yang pragmatis akan tertinggal oleh zaman. Inilah respon penting Revolusi Industri 4.0.

Diakhir, penulis  mengajak untuk selalu konsisten terhadap amanah waktu, amanah pendidikan : intelektual dan moral, dan amanah kesempurnaan penciptaan. Sikap mencerdaskan kita sebetulnya perlu diapresiasi dengan tampilnya fakta- fakta secara kuantitas. Tapi disisi lain sangat perlu dikritisi. Kualitas yang dihasilkan dari fakta kuantitas diatas belum terbukti. Kebohongan, penipuan, kerusakan, kekerasan, korupsi serta sifat merusak lainnya masih belum mampu minggat.

Refleksi sumber daya manusia yang unggul dan bermartabat sehingga menghasilakan sifat kepedulian dan kebermanfaatan yang tidak hanya tampil sebatas pemikiran ide dan wacana, tidak pula sebagai retorika namun sebagai fakta nyata harus dibutikan. Tindakan yang bersifat amal perlu digalakkan. Sikap praksis dan proaktif perlu disosialisasikan dan disebarluaskan sehingga menjadi nyata. Sehingga mencerdaskan disaaat rebahan mampu menjadi pengalaman ilmu dan menjadi pengamalan amal untuk realisasi sukses dunia akhirat.

 

* Catatan

  • Penulis adalah Hanief Zeinadin, Kader tingkat III Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis

 

Tags: , , , ,
Bagikan 5000 Bibit, PW IPM Sumsel Menyurihkan Jalan Produktif Petani
Berkarya Dulu, Sukses Kemudian
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.