IPM.OR., YOGYAKARTA – Lembaga Kesehatan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adakan Safety Briefing dan Praktik Manajemen Risiko Bencana di UAD Kampus 2, pada Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Iwan Setiawan dan Wakil Rektor Universitas Ahmad Dahlan Nur Kholis. Diikuti oleh 53 pelajar, kegiatan ini digelar sebagai bagian dari upaya mengedukasi pelajar agar lebih sadar terhadap pentingnya keselamatan diri dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Kegiatan diawali dengan penyampaian Materi Manajemen Risiko Bencana oleh Setya Noer Hatmoko. Peserta diberikan pemahaman mengenai bagaimana mengenali potensi risiko, melakukan upaya pencegahan, serta menentukan langkah yang tepat ketika menghadapi situasi bencana.
Selanjutnya, peserta mendapatkan Materi Safety Briefing yang disampaikan oleh Khusniyan Nur Fadhli. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya safety briefing sebagai salah satu langkah untuk memastikan keselamatan dan kesiapan seseorang sebelum melakukan suatu kegiatan.
Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga diajak untuk mempraktikkan manajemen risiko bencana dan merancang safety briefing. Melalui praktik tersebut, peserta belajar mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan sekitar serta menyusun langkah-langkah keselamatan yang dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi darurat.
Sebagai bagian dari pembekalan, Lembaga Kesehatan PW IPM DIY juga memberikan logbook kepada peserta. Logbook tersebut berisi materi dan panduan mengenai safety briefing yang telah dikaji dan diriset oleh Lembaga Kesehatan PW IPM DIY, sehingga dapat digunakan peserta sebagai bahan untuk memahami dan menerapkan safety briefing secara lebih mudah.
Ketua Pelaksana kegiatan Pandorawan Majda Ramadhan menegaskan bahwa pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda formal atau kegiatan satu kali, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan keselamatan yang berkelanjutan.
“Pelatihan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda formal, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Analisis risiko bencana dan safety briefing perlu menjadi bagian dari setiap agenda dan program kerja yang dilaksanakan secara luring, baik di lingkungan IPM maupun di berbagai tempat penyelenggaraan kegiatan,” ujar Majda.
Menurut Majda, penerapan analisis risiko dan safety briefing secara konsisten dapat membantu penyelenggara maupun peserta kegiatan untuk lebih siap dalam mengenali potensi bahaya dan menentukan langkah keselamatan sebelum kegiatan berlangsung.
Dengan demikian, keselamatan tidak hanya dipandang sebagai respons ketika terjadi keadaan darurat, tetapi menjadi bagian dari proses perencanaan setiap kegiatan.
Melalui pelatihan ini, Lembaga Kesehatan PW IPM DIY berupaya mendorong terbentuknya budaya sadar risiko dan budaya keselamatan di kalangan pelajar. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan di sekolah, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari.
Ke depan, penerapan analisis risiko bencana dan safety briefing diharapkan dapat menjadi kebiasaan dalam setiap kegiatan luring yang diselenggarakan, sehingga setiap aktivitas dapat berlangsung dengan lebih aman, siap, dan bertanggung jawab.*(yud)



































