IPM.OR.ID., YOGYAKARTA – Training of Trainer Peer Counselor IPM (ToT PCI) merupakan sebuah program yang diselenggarakan oleh bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PP IPM bersama bidang Ipmawati PP IPM di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pada Jumat (10/06/2022).
Kegiatan yang diikuti oleh 62 peserta yang tersebar dari 15 wilayah ini mengangkat tema Penguatan Kapasitas Konselor Teman Sebaya, Untuk Pelajar Sehat & Berdaya.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Nashir Efendi dalam pembukaan kegiatan ToT PCI PP IPM mengatakan bahwa dalam kegiatan PCI ada beberapa hal yang menjadi isu bersama. Isu yang pertama, yaitu isu tentang kekerasan yang akhir-akhir ini bisa terjadi di mana dan kapan saja.
“Maka tugas kita di sini sebagai IPM yang juga memiliki gerakan untuk mencegah keburukan nahi munkar di tingkat pelajar. Maka kekerasan tersebut jangan sampai bisa dinormalisasi dan menjalar. Kita harus bisa menggunakan pendekatan-pendekatan yang apresiatif dan kreatif. IPM telah berdiri diatas 12 sampai 24 tahun, menghadirkan anak muda yang memiliki daya kreativitas dan keberanian yang bisa disalurkan serta diaktualisasikan dalam kehidupan-kehidupan positif,” jelas Nashir.
Lebih lanjut, Nashir menjelaskan tentang pernikahan dini dan kekerasan seksual juga merupakan isu kita bersama dalam kegiatan ToT PCI PP IPM kali ini. Nashir juga menekankan bahwa IPM turut hadir selalu menjadi teman sebaya.
“Dalam artian, terdapat sebuah fenomena dimana kecenderungan anak muda saat ini untuk menjadikan sumber informasi bukan lagi pada pihak atau otoritas baik secara usia maupun pengalaman yang lebih mumpuni,” ungkap Nashir.
Maka pendekatan-pendekatan di sini, perlu dilakukan pendekatan yang selevel. “Dengan demikian, bisa saling menemani dan membersamai itu menjadi hal utama dalam menekankan bahwa tentang isu-isu yang kita dapatkan ini bisa terselesaikan dengan cara edukatif,” kata Nashir.
Nashir juga menjelaskan peran kader IPM haruslah mampu menjadi agen-agen problem solver. “Hal itu perlu dilakukan karena dengan cara tersebutlah kita dapat mengurangi kasus seperti pernikahan dini dan kekerasan seksual,” pungkas Nashir. *(Hasan)