IPM.OR.ID., JAKARTA – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) secara resmi menggelar acara Milad ke-65 serta pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang merupakan salah satu agenda strategis organisasi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (18/7/2024) di Gedung Cendikia Universitas Muhammadiyah Jakarta ini dihadiri oleh 2500 kader IPM.
Turut hadir pula dalam kegiatan ini Menteri Pertanian Andi Arman Sulaiman, Deputi III Kantor Staf Presiden RI Yan Hiksas, Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Dwi Fajri, Direktur operasional Perum Bulog Andi Afdal, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Dany Rahmat Muharram.
Pada momentum Milad 65, IPM mengangkat tema “Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak. Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharram, menegaskan bahwa “algoritma” bukan sekadar kode komputer, melainkan sistematika gerakan dan pola juang yang presisi agar IPM tidak terjebak pada elitisme, melainkan taktis dan berdampak langsung pada persoalan pelajar.
Dany menegaskan bahwa Milad ke-65 ini harus menjadi momentum otokritik bersama agar organisasi tidak terjebak pada kemegahan seremonial saja.
“Esensi IPM yang sebenarnya adalah seberapa besar nilai kemanfaatan nyata yang bisa kita hadirkan untuk dirasakan langsung oleh pelajar di luar sana,” jelas Dany.
Dalam sambutannya, Dany banyak menyoroti isu yang masih sering dijumpai di kalangan pelajar, seperti perundungan, candu digital, serta krisis moral dan spiritual pada anak muda yang mapan secara akademis, namun kering secara batin.
“IPM harus turun sebagai oase dan kompas islam berkemajuan dalam menangani isu-isu pelajar tersebut,” tutur Dany.
Dany juga menyinggung mengenai inspirasinya terhadap Ahmad Dahlan yang menerjemahkan surat Al-Ma’un menjadi sekolah dan panti asuhan. Ia mengajak kepada seluruh kader untuk bersama merumuskan ulang teologi al-Maun bagi pelajar.
Pemaknaan yatim dan miskin di era modern ini menurut Dany didefinisikan sebagai pelajar yang miskin literasi, yatim dari perhatian moral, dan terganggu kesehatan mentalnya akibat tekanan zaman.
Melalui momentum Milad ke-65 dan Rakernas ini, Dany menegaskan bahwa kader IPM bukanlah generasi yang cengeng atau mudah menyerah, melainkan petarung sejati yang berjiwa problem solver dalam menghadapi berbagai masalah perkembangan di dunia pelajar.
“Di era keterbukaan ini, kita tidak boleh menutup diri dalam berkolaborasi, namun kader IPM pantang menggadaikan harga diri organisasi,” pungkas Dany.*(Tomo)



































