Cognitive Flexibility dan Peran Identitas di Era Postmodernis

Cognitive Flexibility dan Peran Identitas di Era Postmodernis

Opini
878 views
Tidak ada komentar

[adinserter block=”1″]

Cognitive Flexibility dan Peran Identitas di Era Postmodernis

Opini
878 views

Kehadiran masyarakat Islam modern bermula dengan hadirnya oraganisasi-organisasi Islam seperti Serikat Dagang Islam (1909), Muhammadiyah (1912), Nahdatul Ulama (1926) dan masih banyak lagi persebaran gerakan Islam, dimulai setelah reformasi dengan datangnya gerakan-gerakan Islam transnasional ke Indonesia. Pra-kemerdekaan Indonesia gerakan Islam hadir untuk menyempurnakan Tauhid dan membantu kemerdekaan Indonesia dengan berserikat seperti ini gerakan-gerakan perlawanan kemerdekaan bertransformasi menjadi dialtetika pemikiran Islam melalui metodologi yang beragam.

Setelah kemerdekaan Indonesia dan memasuki fase-fase seperti orde lama, orde baru hingga reformasi yang melahirkan banyak organisasi sayap gerakan Islam yang sudah lahir sebelum kemerdekaan, hampir semua organisasi Islam membentuk serikat di semua pergerakan intelektual mulai gerakan pelajar, mahasiswa hingga pemuda. Sebuah pencapaian terbaik untuk mensukseskan tujuan masing-masing organisasi Islam dengan melebarkan sayapnya di semua sektor pergerakan. 

Menuju tujuan pergerakan Islam yang lahir sebelum kemerdekaan ini, seperti Muhammadiyah yang konsisten dalam menciptakan masyarakat Islam yang sebenar–benarnya diresapi oleh semua organisasi otonom yang bernaung di Muhammadiyah. Dalam fase perhimpunan abad terbaru ini perlu kiranya mengkaji telaah mengenai peluang hingga ancaman serta teoritik yang terus berkesinambungan. Muhammadiyah dengan sadar sejak awal tidak terikat kepada gerakan politik mulai zaman penajajah hingga sekarang sehingga gerakan murni ini menjadi napas panjang yang terus tercipta, sehingga membentuk bukti autentik bahwa Muhammadiyah tidak lahir dari ruang hampa yang minim akan nilai-nilai keislaman dan konsistensi. Dengan hadirnya aspek pemurnian sekaligus pembeharu, juga anjuran nahi munkar hingga ber ma’ruf menjadikan hal ini proses ijtihad yang berkeadaban.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam fase lebih setengah abad ini memanifestasikan dirinya dari bermacam teoritik hingga aksi nyata guna memperteguh kedudukan pelajar sebagai agen perubahan. Konstruksi Pelajar Berkemajuan menjadi pencapaian postmodernisme dengan memperkaya “kesadaran nun” sebagai pengejawantahan Q.S Al-Qalam (1) untuk terus membangun kesadaran keilmuan dan membangun paradigma nun (ilmu pengetahuan).

Melalui sepak terjang gerakan keilmuan yang lahir dari IPM, sebagai bentuk muslim progresif IPM hadir melintasi zaman dengan berbagai problematika bangsa hingga kini membentuk teoritik Gerakan Pelajar Berkemajuan untuk menuju pelajar berkeunggulan.

Keterbukaan pikiran

Cognitive Flexibility merupakan kerangka teori melalui terbukaanya pikiran melalui kemampuan seseorang untuk biasakan diri dalam strategi proses pengetahuan menuju hal yang baru dan kondisi yang tidak diharapkan. Sebagai rangkaian operasi pencarian masalah yang menunjukan perubahan prilaku yang kompleks. Dalam organisasi sekaliber IPM dapat ditemui proses-proses permasalahan yang terjadi, perlu adanya keterbukaan sudut pandang serta akselerasi yang revolusioner dalam membangun kesadaran utama (ilmu) untuk membangun masyarakat ilmu.

Organisasi yang bertahan dalam abad 21 ini harus bisa menaikan pola pikir yang konservatif  guna mampu bertahan atas terjangan ekspansi gerakan modernis dari seluruh masyarakat dunia, untuk menyusun ulang pertanyaan-pertanyaan serta tantangan isu strategis sehingga terbukanya paradigma baru yang terbangun dari wacana keilmuan tersebut.

Manuel Castells dalam bukunya The Power of Identity: second edition with a new preface beranggapan bahwa meskipun identitas biasanya berasal dari seirang individu ataupun kelompok masyarakat melalui kebudayaan, tetapi menurutnya identitas dapat berasal dari institusi yang dominan. Hal ini akan terjadi apabila aktor-aktor sosial menginternalisasi dan mengkonstruksi identitas tersebut . Atas dasar ini, Castells membagi  tiga bentuk identitas yakni identitas legitimasi, identitas resisten, dan identitas proyek. Castells memberikan pemaparan yang komprehensif mengenai kekautan identitas dalam dunia internasional kontemporer. Metode yang digunakan oleh Castells adalah dengan menggunakan metode komparatif yakni Castells mencoba memahami bagaimana identitas yang dimiliki oleh masyarakat di suatu negara menjadi kekuatan dengan melihat pada konteks sejarah dan pada konteks dunia kontemporer.

Melalui pendekatan historis dan kontemporer sebuah identitas yang konservatif harus berubah penampilan secara comprehensif dengan metode komparatif. Bahkan Fisikawan Leonard Mlodinow menyampaikan bahwa individu ataupun kelompok yang mampu beradaptasi pada zaman adalah mereka yang disebut “elastis”.

Dalam hal keterbukaan pikiran ini IPM membangun ruang keilmuan yang modernis sehingga tidak menjadi kajian “ruang hampa” dengan perpandangan holistik yang mampu melihat dari seluruh sisi permasalahan. Melalui keterbukaan pikiran ini sehingga diskursus dalam organisasi akan lebih majemuk untuk dikaji lebih mendalam sehingga tidak hanya terpukau kepada kejayaan masa lalu melainkan bagimana belajar dari masa lalu untuk mendapatkan kejayaan masa depan.

Memalui proses ijtihad ini, IPM yang yakin akan bisa menawarkan sesuatu melalui agenda aksi dan isu strategis dalam proses postmedernisme yang dibagikan kepada publik untuk bisa di terjemahkan secara praktik untuk mempermudah jalanya roda tujuan gerakan Islam yang unggul dan berkeadaban untuk mencapai masyarakat ilmu sehingga ada penawaran teoritik baru kepada IPM untuk dikembangkan, mengingat fase Program Jangka Panjang IPM 2014-2024 sudah di depan mata, secara spesifik rumusan tujuan Program Jangka Panjang sebagai Visi IPM 2024 adalah: “Membumikan Gerakan Pelajar Berkemajuan dengan Menjadikan IPM sebagai Rumah Minat dan Bakat Pelajar Indonesia disertai Nilai-nilai Ajaran Islam sebagai Komponen Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya ”. Yang diarahkan kepada perjuangan pembentukan masyarakat ilmu sebagai cikal bakal terwujudnya tujuan Muhammadiyah, yaitu masyarakat Islam yang sebenar-benarnya atau masyarakat utama, yang bertujuan terbentuknya peradaban utama.

*) Catatan

  • Penulis adalah Al Bawi, Anggota PIP PP IPM. Penulis dapat dihubungi via email: albawi0202@gmail.com
  • Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis.

 

Era Digital : Akankah Gerakan Pelajar Berkemajuan Hilang?
Angin Segar IPM Banyuwangi Periode 2019/2021
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.