IPM.OR.ID., MAKASSAR – Dalam perhelatan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), kehadiran kader IPM Papua menghadirkan bahasa lain, bahasa simbol, warna, dan makna yang merefleksikan identitas serta perjuangan pelajar dari Tanah Timur.
Dalam wawancara eksklusif, Rani Safitri, kader PW IPM Papua, pada Kamis (5/2/2026) menjelaskan bahwa apa yang mereka kenakan merupakan refleksi dari cara pandang masyarakat Papua terhadap kehidupan.
Harmoni antara manusia dan alam menjadi fondasi utama, sekaligus bentuk penghormatan terhadap tanah Papua yang selama ini menjadi ruang tumbuh, belajar, dan berjuang.
“Bagi kami, ini adalah cara untuk menyampaikan identitas dan nilai tanpa harus banyak kata,” tutur Rani.
Melalui simbol-simbol tersebut, tersirat pesan bahwa Papua bukanlah wilayah pinggiran yang miskin makna. Sebaliknya, Papua adalah tanah yang kaya bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga nilai ketangguhan, kebersamaan, dan keberanian menghadapi realitas yang tidak selalu ramah.
Identitas ini tidak dapat dipisahkan dari pengalaman menjadi kader IPM di Papua. Rani menegaskan bahwa menjadi bagian dari IPM di Tanah Papua bukan sekadar soal keanggotaan organisasi, melainkan keberanian untuk tetap menjadi teladan di tengah kondisi yang kerap tidak aman.
Kader IPM Papua dituntut mampu menjadi penyejuk di tengah keragaman suku dan agama, serta berdiri teguh menghadapi berbagai tekanan.
“Kami belajar untuk tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat secara mental. Situasi daerah mengajarkan kami arti keteguhan,” ujarnya.
Lebih jauh, Rani menyebut bahwa apa yang dibawa kader IPM Papua ke ruang Muktamar adalah representasi perjuangan Muhammadiyah di wilayah paling ujung Indonesia.
Di tengah bayang-bayang konflik yang kerap menciptakan rasa takut dan menghambat aktivitas organisasi, kader IPM Papua terus menjaga agar semangat belajar pelajar tidak padam.
IPM hadir sebagai ruang aman, tempat pelajar saling menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah bangsa.
Melalui kehadiran dan pesan yang mereka sampaikan, Rani berharap Muktamar tidak hanya memandang Papua sebagai data dalam laporan organisasi.
Papua, menurutnya, adalah saudara yang membutuhkan dukungan nyata. Ia mendorong agar pimpinan pusat lebih peka terhadap keselamatan kader di wilayah rawan serta menghadirkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.
“Kami ingin memastikan tidak ada pelajar di Papua yang tertinggal hanya karena kondisi daerahnya sulit,” tegas Rani.
Menutup perbincangan, Rani menitipkan pesan agar roda kepemimpinan IPM terus berputar, khususnya di wilayah timur Indonesia.
IPM mungkin tidak menjanjikan kemudahan, tetapi melalui proses di dalamnya, pelajar ditempa menjadi pribadi yang kompeten, tangguh, dan berkarakter.
Apa yang hadir dari Papua di ruang Muktamar pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar tampilan luar. Di sana tersimpan bahasa perjuangan tentang identitas, keteguhan, dan harapan pelajar Tanah Timur untuk terus bertumbuh bersama IPM.*(Nabila)



































