4 Jihad, 5 Sempurna

4 Jihad, 5 Sempurna

Beritablog
2K views
Tidak ada komentar

4 Jihad, 5 Sempurna

Beritablog
2K views

Jihad memang selalu saja dikait-kaitkan dengan aktivitas fisik yang identik dengan pertumpahan darah. Semakin kesini, kata jihad malah menjadi stigma yang sudah bercokol di sebagian besar kepala masyarakat hari ini. Dulu, jihad adalah sebuah hal yang dinanti nanti, dielu-elu.

Saya jadi teringat tentang kisah Nusaibah Binti Ka’ab Radhiyallahu Anha yang menggetarkan hati setiap muslim yang mendengarkan kisahnya. Yang akan menjadikan sebuah refleksi bagi kita yang berprinsip Isy Kariman au Mut Syahidan.
Tulisan ini khususon untuk saya, kaum remaja dari borjuis sampai proletar, dari kanan sampai kiri, dari brahmana sampai sudra, dari yang femes sampai yang dibully, dari yang bisanya cuma ngerengek minta iPhone 7 sampai yang sudah bisa berangkatin haji orang tua, dan seterusnya.
Baik, para jamaah pelajar rahimakumullah..
Langsung saja. Jujur saya sangat geli(sah) ketika ada beberapa remaja yang menarik pita suaranya untuk menyeru kepada yang ma’ruf dengan lantang seperti “panggilan jihad sudah terdengar untuk kita yaa mujahidin! Takbir!” tapi dalam praktik kehidupan sehari-hari masih banyak dan masih jauh dari apa yang diserukan (termasuk saya).

Maksud saya, mbok yo jangan jauh-jauh dulu rek.. jangan terlalu gegabah untuk menghabiskan energi,  apalagi merelakan nyawamu untuk sesuatu yang belum tentu itu untuk berjuang di jalan Tuhan. Saya juga tidak sedang menghakimi. Saya hanya ingin meluapkan apa yang ada di dalam benak fikiran saya. Saya khawatir itu malah untuk sesuatu yang diTuhankan. Ada banyak peluang untuk kita berjihad di jalan Allah di sekitar kita. Dari konsep jihad yang paling rendah sampai yang tinggi. Ngebully temen kita yang lagi pacaran biar putus itu juga bentuk jihad yang kongkrit gengs. Apalagi mereka langsung lamaran trus nikah. Haha

Banyak jalan untuk berjihad, kawanku.. (*ini pake nadanya Ust. Khalid Basalamah)
Dibawah ini saya coba berikan resep 4 Jihad 5 Sempurna. Silahkan nanti mau dikonsumsi atau tidak, saya hanya menuangkan resepnya, tentang di masak atau tidak pilihannya ada di kita.
Satu, Jihad Bil Walidayn
Dalam hal ini, ada celah besar untuk kita berjihad. Lalu di titik koordinat manakah?
Jadi begini, ketika dinasehati orang tua jihad yang dilakukan adalah dengan cara diam. Jadi, jihad itu tidak harus “bergerak”. Diam juga bagian dari praktek jihad. Asalkan sesuai dengan konteksnya. Dalam potongan arti harafiah Surat Al-Isra’ ayat 23-24, kita dilarang untuk berkata “ah” kepada orang tua. Bukan berarti jika berkata “ah” dilarang maka boleh berkata “ih, uh, oh” boleh. Dan sebagainya.

Disini adalah larangan untuk menyakiti hati kedua orang tua kita, terlebih untuk seorang Ibu. Yang hatinya seluas samudra, tutur katanya mengandung nasihat. Apapun itu kata dan kalimatnya jika menyakiti hati beliau, maka itu dilarang. Maka pilihannya adalah diam, dengarkan, dan pahami. Jadi kurang lebih itu peluang jihad kita untuk diri sendiri dan kepada orang tua.
Dua, Jihad bil Medsos
Yang pertama, untuk bermedia sosial pada dasarnya kita memang perlu mempunyai keshalehan sosial. Kemudian barulah kita bisa shaleh pula di ketika berada di dalam alam media hari ini. Sulit sekali mencari berita mana yang benar-benar berita. Mana yang benar-benar fakta, mana yang benar-benar tidak memihak, dan seterusnya. Adanya media hari ini benar-benar menuntut semua kalangan penggunanya agar lebih pintar lagi untuk menggoyangkan jempolnya di atas gadget. Jika tidak, maka itu akan membahayakan diri sendiri, lebih parahnya keutuhan bangsa.

Google dan search enginelain diminati dengan tujuan pertama pengguna internet untuk “nyantri”. Setelah itu, mendadak mereka langsung berubah menjadi orang yang paling bijak se-dinding facebook atau timeline twitter. Tidak sedikit pula yang tiba-tiba bisa jadi Ustad. Ustad lulusan pondok pesantren google maksudnya.

Oke, kali ini saya juga ingin menjelaskan bahwa terkadang diam dalam bermedsos itu juga bentuk dari jihad. Kenapa? Hmm, menjadi reader, viewer atau apalah istilahnya justru menurut saya itu membantu untuk menjaga keutuhan umat beragama dan bernegara. Kegaduhan media sosial yang akhir-akhir ini terjadi juga ada indikasi “tidak bisa diamnya” para pengguna media sosial. Mereka seringkali terpancing berkomentar cas cis cus, padahal dibaliknya memang ada yang sengaja “memantiknya”. Ibarat sumbu-sumbu pendek berjejer dan siap di estafetkan oleh percikan api kecil.

Tapi, jika ada yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang memilih diam untuk tertindas daripada bergerak melawan, Begini jamaah remaja rahimakumullah.. Saya rasa salah satu strategi untuk melawan arus yang seperti itu adalah dengan tidak melawannya. Dengan cara diam, itu perlawanan yang cukup keras menurut saya.

Penafsiran diam disini mohon jangan di sempitkan. Maksud saya, diamkan saja arus kegaduhan itu. Jika kita ikut gaduh, ya tidak akan bisa merubah status-quo. Meskipun niatnya sudah tertata rapi untuk menjadi penetralisir sekalipun. Saya lebih memilih untuk diam untuk tidak konfrontatif. Menurut saya itu lebih efektif untuk menetralisir ketimbang ikut gaduh.

KH Ahmad Dahlan pun sudah mencontohkan dulu, pada masa itu konteksnya adalah tentang Islam dan non-Islam. Begitu elegannya beliau untuk melawan penguasa non-Islam dan dzalim itu dengan cara tidak melawannya. Pendek kata, tidak konfrontatif. Ketika penguasa dan para pendakwah non-Islam saling berjibaku untuk “mensyahadatkan” masyarakat animis ke dalam agamanya, dan lebih parahnya lagi memurtadkan warga muslim. Kyai Dahlan lebih memilih untuk tidak menggalakkan massa atau apapun itu yang konfrontatif terhadap rival dakwahnya. Beliau lebih memilih menitikberatkan kepada pendidikan, kesehatan, dan bidang sosial lain dengan mendirikan sekolah dan rumah sakit PKU misalnya. Yang mana, secara tidak langsung itu adalah perlawanan yang cukup merepotkan bagi rival dakwahnya. Bagaimana tidak, bisa dibayangkan ketika tidak ada sekolah-sekolah dan rumah sakit Islam pada masa itu. Tentu masyarakat akan lebih mudah untuk disyahadatkan atau dimurtadkan melalui bangku pendidikan dan rumah sakit ketika pembacaan do’a. Kyai Dahlan justru mendiamkan rivalnya dan lebih menitikberatkan kepada hal-hal yang lebih memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat sekitar.
Tiga, Jihad bil ‘Ilmi
Perihal menuntut ilmu, memang sudah seharusnya kita memulainya “dari ayunan sampai dengan liang lahat”. Begitu kata peribahasa. Jika ditarik ke belakang, maka bisa dipastikan bahwa penyebab kehancuran di dunia ini adalah semakin meluasnya manusia yang kurang berilmu di masyarakat (mungkin termasuk saya).

Dalam menuntut ilmu, setidaknya kita bisa menempatkan diri kita sebagai orang yang bodoh. Dengan begitu, kita akan terus merasa “kehausan” akan ilmu. Kita tidak akan bisa bertahan lama untuk menahan dahaga keilmuan.
Berikutnya, mari kita menoleh ke sejarah. Dulu, penjajahan dilakukan melulu dengan aktifitas fisik yang membabi buta. Hampir tidak pernah untuk tidak melibatkan senjata. Pada hari ini, kita sudah tidak lagi dihadapkan dengan penjajahan yang seperti itu. Sadar atau tidak, dulu sampai sekarang masih saja dijajah. Tetapi dengan cara yang berbeda. Bedanya, di zaman ini yang menjadi target jajahan adalah pemikiran kita. Konstruksi berfikir kita di hajar habis-habisan di dekade ini. Tidak sedikit gerakan-gerakan yang cukup membosankan menurut saya. Kalau tidak rekonstruktif ya dekonstruktif. Begitu seterusnya. Jarang sekali yang sifatnya memasifkan, menguatkan, memberdayakan, dan sebagainya. Seolah-olah revolusi adalah harga mati. Revolusi adalah solusi. Saya kok makin getol dengan yang seperti itu. Seperti Freire yang igit-igiten dengan Marx. Ah sudahlah..
Jamaah rahimakumullah, Inti dari jihad bil ‘ilmi adalah dengan bagaimana kita mencari dan mendalami suatu disiplin ilmu dan pastikan kita sedang belajar pada guru yang benar. Jangan sampai tidak berguru. Jika tidak maka gurunya adalah setan. Sebagaimana sejak pertama kali Adam as. diciptakan dan ditinggikan derajatnya disebabkan dia lebih “berilmu” disbanding makhluk lainnya. Di masa-masa kita (pelajar/remaja) ini yang sedang subur-suburnya untuk menanam benih-benih keilmuan. Sedang kuat-kuatnya untuk mendirikan bangunan ideologi yang kokoh di kepala kita. Maka, mari kita berjihad bersama dalam hal menuntut ilmu. Sekedar mengingatkan untuk saya dan semua, bahwa ilmu itu untuk memintarkan orang yang belum pintar. Tidak untuk membodohkan yang belum pintar.
Empat, Jihad bil Pergaulan
Judulnya agak absurd ya. Tapi tidak masalah, saya lebih suka yang ini (modus, padahal ga nemu apa yang pas). Oke, Akhirnya ke pembahasan yang saya suka. Dalam bergaul, sering memang kita di hadapkan dengan banyak dinamika kebaperan antar lawan jenis (bagi yang normal). Agak sulit ternyata kalau kita menerapkan gaya pergaulan yang sangat Islami. Karena seislami-islaminya pergaulan remaja hari ini masih lebih islami mbak kuntilanak. Haha

Menjaga jarak, pandangan, tutur kata yang tidak menyakiti, perbuatan yang tidak merugikan, itu juga merupakan amalan jihad kita dalam bergaul dengan sesama teman. Tidak bisa di hindari memang, dengan adanya gadget yang cukup mendukung untuk berkomunikasi dalam bentuk tulisan, gambar, suara, maupun video membuat pola bergaul remaja saat ini lebih berbeda.

Kongkretnya untuk berjihad di dalam pergaulan lawan jenis utamanya, menjaga hati agar tidak terjadi sesuatu yang akan mengharapkan lebih. Yang mana pengharapan itu hanya pantas diperuntukkan kepada yang Maha pengabul segala harapan.
Lima Sempurna, Ikhlas
Ini yang paling penting para jamaah. Jika tidak, maka hanguslah semua amalan jihad kita. Jangan sampai kita berjihad hanya untuk ingin mendapatkan simpati dari sekitar. Rasa ikhlas inilah yang akan menjadi pelengkap dari 4 resep diatas. Ikhlas karena hanya mengharap keridhoan Allah. Ingat para jamaah, jihad adalah pilihan. tentang masuk surga atau tidaknya itu urusan Allah.
Andai saja jika para sufi hidup di zaman ini, maka bunyinya begini “Sesungguhnya aku rela jika aku kehilangan semua followersku apabila itu atas keridhoan Allah SWT. Daripada followersku terus bertambah tapi Allah murka terhadapku”. Afalaa yatadzakkaruun.

Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun



*) Penulis adalah Iman Permadi. Ketua Perkaderan PD IPM Surabaya, saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Studi Agama-agama Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Kader IPM Bawa Limbah Kulit Durian Sabet Juara Nasional
PC IPM Pamijahan Turut Sukseskan Milad Muhammadiyah
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.