IPM.OR.ID., MAKASSAR – Kehadiran delegasi Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Sumatera Barat dalam Muktamar IPM XXIV di Makassar menjadi gambaran komitmen kader terhadap amanah organisasi. Menempuh perjalanan panjang lintas pulau, para kader menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan bagian dari tanggung jawab perjuangan dalam menentukan arah gerakan IPM ke depan.
Salah satu perwakilan PW IPM Sumatera Barat, Salma, menyampaikan bahwa motivasi utama mengikuti Muktamar adalah amanah organisasi yang harus ditunaikan dengan penuh kesadaran. Menurutnya, jarak dan lelah bukan alasan untuk absen dari forum tertinggi IPM tersebut.
“Bagi kami, ini bukan sekadar perjalanan fisik dari Sumatera Barat ke Makassar, tapi perjalanan perjuangan. Ketika sudah membawa nama PW IPM Sumatera Barat, maka lelah bukan alasan. Kami sadar betul bahwa Muktamar adalah ruang menentukan arah gerakan,” ujar Salma.
Kehadiran delegasi Sumatera Barat juga mencuri perhatian melalui penggunaan atribut adat Minangkabau. Salma menjelaskan bahwa atribut tersebut bukan sekadar busana, melainkan simbol identitas dan nilai yang dipegang teguh dalam gerakan.
“Atribut yang kami gunakan adalah identitas, bukan hanya pakaian. Salempang Bundo Kanduang melambangkan kehormatan dan peran strategis perempuan Minangkabau, sementara deta melambangkan kepemimpinan dan tanggung jawab laki-laki. Ini representasi nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa identitas kedaerahan tidak dimaksudkan untuk membangun kebanggaan sempit, melainkan sebagai kontribusi nilai bagi gerakan IPM secara nasional.
“Kami datang membawa Sumatera Barat, tapi kami bergerak untuk IPM Indonesia. Identitas daerah harus menjadi akar yang memperkaya gerakan nasional, bukan untuk dipertentangkan,” katanya.
Salma juga menekankan bahwa menjadi kader IPM dari Sumatera Barat berarti membawa warisan intelektual dan semangat pembaruan. Ranah Minang, menurutnya, dikenal sebagai tanah lahir para pemikir dan pembaharu, sehingga kader IPM dituntut untuk melanjutkan tradisi berpikir kritis dan berani bersuara.
“Menjadi kader IPM bukan hanya soal aktif organisasi, tapi melanjutkan tradisi berpikir kritis, berani bersuara, dan tetap berlandaskan nilai Islam berkemajuan,” ujarnya.
Dalam gerakan daerah, PW IPM Sumatera Barat berkomitmen memperkuat kaderisasi dan literasi pelajar. Mereka ingin memastikan bahwa IPM hadir bukan hanya dalam seremoni, tetapi melalui kualitas gagasan dan konsistensi gerakan.
“Kami ingin pelajar Muhammadiyah di Sumatera Barat tumbuh sebagai pelajar yang cerdas, berakhlak, dan progresif,” tambah Salma.
Menurutnya, Muktamar IPM XXIV menjadi momentum penting untuk konsolidasi ide dan arah gerakan. Ia berharap IPM ke depan semakin responsif terhadap tantangan zaman, mulai dari isu pendidikan, digitalisasi, hingga penguatan karakter pelajar.
“Muktamar adalah ruang konsolidasi. Kami ingin pulang membawa semangat baru, sistem kaderisasi yang lebih kuat, dan gerakan yang lebih terukur serta berdampak,” tuturnya.
Di akhir, Salma menyampaikan pesan kepada pelajar agar tidak ragu berproses di IPM. Ia menilai IPM sebagai ruang belajar yang aman dan inklusif untuk tumbuh bersama.
“Jangan takut berproses. Tidak perlu merasa paling pintar atau paling siap. Justru di IPM kita ditempa. Kalau ingin berkembang, jangan hanya jadi penonton, jadilah bagian dari gerakan,” pungkasnya. *(Say)



































