IPM.OR.ID., MAKASSAR – Panggung pembukaan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) XXIV di penuhi harmoni musikal pada Jum’at (5-8/2/2026) di Balai Sidang, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Di balik penampilan orkestra yang memukau tersebut, berdiri sosok Zada Sawaty, konduktor sekaligus penggagas kolaborasi antara santri dan kelompok chamber orkestra.
Zada Sawaty merupakan anak kelima dari pasangan Sawaty Lambe dan almarhumah Norma Patiroi. Ia juga merupakan putra dari tokoh Muhammadiyah Parepare.
“Ayah saya mantan Ketua Muhammadiyah Parepare. Semoga beliau bangga dengan apa yang saya lakukan hari ini,” ungkap Zada.
Penampilan orkestra tersebut merupakan kolaborasi antara The Harmony of IMMIM dan Realplay.
The Harmony of IMMIM merupakan kelompok santri binaan Zada yang berjumlah 35 orang, sementara Realplay adalah grup chamber orkestra yang ia dirikan dengan 17 personel. Kolaborasi ini menghadirkan sebuah panggung seni yang memadukan spiritualitas santri dan kekuatan musikal orkestra modern.
Pada kesempatan tersebut, rangkaian lagu yang dibawakan pun beragam dan sarat pesan. Mulai dari lagu kebangsaan dan mars organisasi seperti Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars IPM, dilanjutkan dengan Theme Song Muktamar IPM, hingga karya-karya musik lintas genre seperti This Love (Da Vinci), Tea Tonja Nipakamma, Rannu, Terbuang dalam Waktu, dan Simfoni yang Indah.
Penampilan tersebut juga memuat lagu Gaza We Will Not Go Down sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan, dan ditutup dengan karya Zada sendiri berjudul Bulan Sabit Bintang.
Zada menjelaskan bahwa konsep yang diusung sebenarnya sederhana, yakni menggabungkan format big band dengan string section.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa santri itu bisa. Dan yang paling penting, lewat lagu Gaza We Will Not Go Down, kami ingin semua tetap menoleh ke arah Gaza,” ujarnya.
Proses persiapan penampilan ini dilakukan dalam waktu sekitar satu minggu. Tantangan utama datang dari lokasi latihan yang terpisah. Para santri berlatih di Pesantren IMMIM, sementara personel Realplay berlatih di lokasi berbeda.
Penyatuan latihan baru dilakukan dua hari sebelum tampil, bertempat di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Selain itu, tantangan teknis seperti kebutuhan monitor floor, kekompakan permainan, dan penyesuaian latihan menjadi bagian dari proses yang harus dilalui.
Meski demikian, semua tantangan tersebut dapat diatasi dengan kerja sama dan komitmen bersama.
Ketika akhirnya tampil di hadapan ribuan kader IPM, perasaan haru dan bangga pun menyelimuti Zada dan seluruh pemain. Salah satu momen paling berkesan justru terjadi sebelum penampilan.
“Moment paling berkesan itu ketika kami berangkat ke lokasi sambil membawa alat musik, naik motor, lalu kehujanan,” kenangnya.
Melalui penampilan ini, Zada berharap kader IPM mendapatkan suasana dan semangat baru. Ia juga menitipkan harapan besar bagi masa depan IPM, khususnya dalam pengembangan seni dan budaya.
“Semoga IPM bisa lebih besar lagi. Yuk, kita bikin pergerakan seni yang lebih besar di IPM,” pungkasnya.
Kolaborasi orkestra ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi bahasa dakwah, kemanusiaan, dan persatuan. Di panggung Muktamar IPM XXIV, harmoni santri dan orkestra tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa hingga ke hati.*(Nabila)


































