IPM.OR.ID., MAKASSAR – Menjelang pelaksanaan Muktamar, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) gelar Tanwir Pra-Muktamar XXIV, pada Kamis (5/2/2026) di Aula Arafah Asrama Haji Embarkasi Makassar. Kegiatan Tanwir ini merupakan bagian dari agenda Muktamar XXIV IPM dalam rangka memutuskan hal-hal teknis untuk muktamar.
Turut hadir dalam kegiatan ini Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Syaiful Saleh, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) Riandy Prawita, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Irwan Akib, serta kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang menjadi peserta muktamar.
Tanwir Pra-Muktamar menjadi ruang konsolidasi penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis yang akan dibahas dan diputuskan pada Muktamar mendatang. Sejumlah isu krusial menjadi perhatian utama, mulai dari penguatan ideologi, arah gerakan organisasi, hingga respon terhadap tantangan sosial yang dihadapi umat dan bangsa.
Ketua Umum PP IPM Riandy Prawita dalam sambutannya menegaskan bahwa Tanwir Pra-Muktamar bukan sekadar agenda formal, melainkan momentum reflektif untuk memastikan Muktamar berjalan substantif dan berdampak.
“Kegiatan Tanwir merupakan forum permusyawaratan. Kehadiran seluruh peserta di sini tentu untuk bermusyawarah demi kepentingan IPM, Muhammadiyah, dan bangsa. Karena itu, semangat yang dibangun harus benar-benar diarahkan untuk melahirkan gagasan terbaik bagi pelajar Muhammadiyah,” ujar Riandy.
Ia menjelaskan, logo Muktamar yang diluncurkan memiliki makna mendalam sebagai simbol semangat untuk menghadirkan kualitas terbaik pelajar Muhammadiyah.
“Untuk melahirkan itu semua, kita membutuhkan pengetahuan yang kuat dan sikap kritis dari pelajar Muhammadiyah. Silakan kritisi, bahkan mulai dari kegiatan ini,” tegasnya.
Riandy berharap tradisi permusyawaratan di Muhammadiyah dapat menjadi contoh dalam praktik demokrasi yang sehat dan solutif.
“Kami berharap Tanwir ini melahirkan gagasan-gagasan solutif. Tiga puluh tiga wilayah yang hadir harus mampu merumuskan ide besar untuk PP IPM, dengan tetap menegaskan bahwa IPM adalah bagian dari Muhammadiyah,” tuturnya.
Menurut Riandy, kerja-kerja gerakan IPM membutuhkan kolaborasi bersama.
“Kerja ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja bersama antara ortom, majelis, dan lembaga agar gerakan IPM benar-benar berdampak,” pungkasnya.
Dengan terselenggaranya Tanwir Pra-Muktamar ini, diharapkan Muktamar XXIV mendatang dapat menghasilkan keputusan yang progresif, responsif, dan berpijak pada nilai-nilai dasar organisasi, sekaligus mampu menjawab dinamika sosial yang terus berkembang. *(Say)
































