Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian

Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian

BeritaMuktamar XXIV
141 views
Tidak ada komentar
Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian

Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian

BeritaMuktamar XXIV
141 views
Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian
Bahasa Identitas Nusantara Hadir di Muktamar IPM XXIV, Nuansa Betawi Mencuri Perhatian

IPM.OR.ID., MAKASSAR – Pembukaan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada Jumat (5-8/2/2026) bertempat di Balai Sidang, Universitas Muhammadiyah Makassar, tidak hanya menghadirkan kemeriahan visual, tetapi juga menyimpan pesan kultural yang kuat. Busana khas Betawi yang dikenakan menjadi simbol identitas, filosofi, serta tanggung jawab kader dalam membawa nilai daerah ke ruang nasional.

Dalam tradisi Betawi, warna pangsi memiliki makna tersendiri yang mencerminkan peran dan identitas pemakainya. Pangsi merah secara historis identik dengan sosok jawara, figur pemberani, ahli silat, dan pelindung masyarakat. Sementara pangsi berwarna krem atau putih kerap dikenakan oleh tokoh agama atau pemuka masyarakat, dan pangsi hitam lazim dipakai murid silat atau pekerja lapangan sebagai simbol fungsi dan kesederhanaan.

Namun, seiring perkembangan zaman, pangsi merah tidak lagi dimaknai semata sebagai pakaian jawara. Busana ini telah bertransformasi menjadi identitas budaya Jakarta yang kerap hadir dalam berbagai perhelatan resmi, seperti Lebaran Betawi hingga acara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sebagai bentuk kebanggaan terhadap akar budaya.

Fatih, kader PW IPM DKI Jakarta, menjelaskan bahwa pilihan busana tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, apa yang ditampilkan dalam pembukaan Muktamar merupakan representasi identitas Betawi yang ingin dihadirkan secara bermakna di forum nasional.

“Busana yang kami gunakan saat pembukaan Muktamar adalah busana Abang None DKI Jakarta. Ini merupakan ciri khas identitas Betawi yang ingin kami perkenalkan sekaligus kami banggakan,” ujar Fatih.

Lebih jauh, filosofi pangsi juga tercermin dari desainnya yang longgar. Istilah “pangsi” berasal dari kata Panggalan Sisi, yang merujuk pada potongan celana yang memberi kebebasan bergerak. Desain ini melambangkan kelincahan dan kesiapsiagaan, nilai yang lekat dengan karakter jawara Betawi.

Di balik warnanya yang mencolok, pangsi umumnya terbuat dari bahan sederhana seperti katun, mencerminkan sikap rendah hati namun tetap teguh pada prinsip.

Makna busana tersebut semakin lengkap dengan aksesori pendamping. Sarung atau cukin yang dikalungkan di leher tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan ibadah, tetapi juga memiliki nilai simbolik sebagai alat bantu dalam bela diri. Sabuk hijau atau gesper haji memberi kesan kokoh dan berwibawa, sementara peci menjadi penegasan bahwa keberanian harus selalu berpijak pada iman dan akhlak.

Bagi kader IPM DKI Jakarta, kehadiran dalam Muktamar juga membawa misi yang lebih luas. Fatih menuturkan bahwa motivasi utama mereka adalah turut mengevaluasi dan menentukan arah gerakan IPM ke depan dengan membawa gagasan dari wilayahnya.

“Motivasi terbesar kami tentu untuk ikut menentukan arah gerakan IPM ke depan dengan membawa gagasan dari wilayah kami. Dan jujur saja, ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal Sulawesi Selatan lebih dekat,” tuturnya.

Ia menambahkan, menjadi kader IPM yang berasal dari DKI Jakarta berarti memiliki banyak akses dan peluang. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab yang besar. Identitas wilayah, menurutnya, bukan sekadar label, melainkan komitmen.

“Menjadi kader IPM DKI bukan hanya soal identitas daerah. Akses dan peluang yang kami miliki harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjadi pelajar yang kritis dan inklusif,” tegas Fatih.

Melalui kehadiran busana khas Betawi dalam pembukaan Muktamar IPM, kader IPM DKI Jakarta tidak hanya menampilkan budaya daerah, tetapi juga menyampaikan pesan tentang identitas, nilai, dan tanggung jawab pelajar dalam gerak organisasi nasional. Sebuah pengingat bahwa keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan untuk memperkaya arah perjuangan IPM ke depan.*(Nabila)

IPM Jawa Barat Mengulik Draft Perubahan AD/ART di Muktamar XXIV: Membaca Batas Usia dan Pimpinan Cabang IPM melalui Teori Kepemimpinan
Sumatera Barat ke Makassar, Kader IPM Tegaskan Komitmen Gerakan
Mungkin anda suka:
Advertisement

[adinserter name=”Block 2″]

Suka artikel ini? Yuk bagikan kepada temanmu!

Terpopuler :

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.