IPM.OR.ID., GORONTALO – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) bersama UNICEF Indonesia kembali mencetak Voicekeepers melalui VOICE Regional Training of Trainer (ToT) di Gorontalo, pada Sabtu-Senin (24-26/12/2026).
ToT ini digelar sebagai langkah keberlanjutan atas komitmen PP IPM terhadap hak anak, khususnya pada pencegahan pernikahan anak (child marriage) dan pemotongan/pelukaan genital perempuan (female genital mutilation).
VOICE regional ToT diselenggarakan di dua provinsi dengan prevalensi pernikahan anak dan FGM yang masih tinggi, yakni Gorontalo dan Jawa Timur.
Berdasarkan data Riskesdas Dalam Angka Provinsi Gorontalo 2013, sebanyak 83,7% perempuan di Gorontalo merupakan penyintas sunat perempuan. Bersama 35 pelajar lokal, program ini menjadi satu langkah strategis dalam upaya advokasi isu tersebut secara berkelanjutan.
Selaras dengan hal itu, Direktur RSKIA Sitti Khadijah Gorontalo Rusli A. Katili menekankan terdapat tantangan besar dalam mengadvokasi kedua isu tersebut.
Menurut Rusli, peran paling besar dalam menyarankan sunat perempuan adalah orang tua dan pelaku sunat, merekalah yang perlu diedukasi.
“Akan tetapi akan terdapat economic impact terhadap pelaku-pelaku sunat perempuan yang bisa kita ketahui seberapa besar tantangan tersebut,” ujar Rusli.
Lebih lanjut, Child Protection Specialist UNICEF Indonesia Zubedy Koteng mengungkapkan rasa bangga atas program kolaborasi ini.
“Kami meyakini bahwa anak dan remaja memainkan peranan yang krusial dalam membangun lingkungan yang aman,” ucap Zubedy.
Sebelumnya, PP IPM telah menyelenggarakan VOICE National ToT pada Desember lalu. Kegiatan ini dirancang untuk membekali pelajar dengan pengetahuan dan keterampilan fasilitasi dalam upaya advokasi isu pernikahan anak dan pemotongan/pelukaan genital perempuan.
Pelajar yang terpilih disebut dengan voicekeepers dan akan ditugaskan dengan rencana tindak lanjut (RTL) dalam mengadvokasi kedua isu tersebut. VOICE Regional ToT menegaskan upaya PP IPM dan UNICEF Indonesia dalam memastikan dampak program dapat menjangkau wilayah-wilayah dengan kerentanan tinggi secara lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Melalui penguatan kapasitas pelajar di tingkat daerah, IPM dan UNICEF Indonesia berharap pelajar semakin berdaya, berani bersuara, serta mampu mengambil peran strategis dalam menciptakan masa depan yang lebih aman dan berkeadilan bagi anak. *(Amina/Yud)


































